Orang-Orang Yang Di Do’akan Malaikat


Malaikat adalah makhluk yang paling taat kepada Allah, mereka selalu beribadah dan tak pernah melakukan kemaksiatan. Selain memuji Allah, para malaikat juga mendoakan kepada manusia.  Sungguh berbahagia orang yang didoakan oleh para malaikat. Didoakan oleh saudara kita yang shalih saja sudah sangat bahagia, maka bagaimana jika yang mendoakan kita adalah malaikat ?

Orang Mukmin dihimbau untuk banyak berdoa dan meminta didoakan oleh orang atau pihak lain. Salah satunya adalah meminta agar didoakan oleh malaikat, makhluk Allah yang tercipta dari cahaya dan selalu taat kepada-Nya, tidak pernah berbuat maksiat atau durhaka kepada-Nya. Dengan malaikat, seorang Mukmin tak perlu bertemu langsung karena ia makhluk gaib. Ia cukup melakukan amal yang jika dilakukan maka malaikat akan mendoakannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.

“Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Bukhari, no. 426)

Di antara amal itu adalah tidak beranjak dari tempat shalat, seperti disebutkan dalam hadits di atas. Maksudnya, tetap duduk di tempat shalat sambil berzikir, berdoa, bermunajat, atau membaca Al Qur'an, dalam kondisi tetap suci belum berhadas.

Pada saat semacam itu, malaikat mendoakannya agar diberi ampunan dan rahmat oleh Allah. Dua hal yang sangat diharapkan oleh orang Mukmin dalam kehidupannya di dunia. Di samping ia sendiri yang berdoa memohon ampunan Allah dan rahmat-Nya, malaikat-pun ikut mendoakannya. Doa malaikat termasuk salah satu yang cepat dikabulkan Allah, karena ia makhluk yang dekat dengan-Nya.

Siapakah mereka dan apakah gerangan yang mereka perbuat ?

  1. Menunggu waktu shalat
    Nabi bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu shalat pada salah satu shalat, sedangkan dia tidak berhadats (batal), maka malaikat akan berdoa, “Ya Allah ampunilah dia ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Muslim)

    Keutamaan lain yang akan didapat oleh orang yang duduk menunggu shalat dengan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala-, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira bahwasanya orang yang berdo’a di antara waktu adzan dan iqamat, niscaya do’anya itu tidak akan ditolak.

    Para Imam (yaitu Imam Ahmad, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban dan Imam Dhi-ya-uddin al-Maqdisi) meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ، فَادْعُوْا ‘Sesungguhnya do’a (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamat tidak akan pernah ditolak, karena itu berdo’alah."

  2. Shalat di Shaf terdepan
    Diriwayatkan dari Al Barra’ bin ‘Adzib bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “إن الله وملائكته يصلون على الصف المقدم، والمؤذن يغفر له مدى صوته ويصدقه من سمعه من رطب ويابس وله مثل أجر من صلى معه” “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang di shaf awal, dan muadzin itu akan diampuni dosanya sepanjang radius suaranya, dan dia akan dibenarkan oleh segala sesuatu yang mendengarkannya, baik benda basah maupun benda kering, dan dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya” (HR. Ahmad dan An Nasa’i)

  3. Para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya
    Rasulullah SAW bersabda :

    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ “Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air.” (HR. Muslim)

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do’akan Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Pustaka Ibnu Katsir]
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ciri-ciri orang munafik


Kita tidak pernah tahu isi hati orang lain, namun pasti Allah akan ungkap pada saatnya nanti dimana orang munafik pasti keluar dari barisan orang-orang beriman dan setiap orang beriman pasti keluar dari barisan orang-orang munafik. Sehingga barisan orang-orang beriman hanya berisi orang-orang beriman saja tidak ada orang munafik dan barisan orang-orang munafik hanya berisi orang-orang munafik saja tidak ada orang beriman di dalamnya.

Nifaq merupakan salah satu sifat tercela dalam Islam. Orang yang melakukan nifaq disebut munafik. Ada dua jenis orang munafik. Pertama orang munafik yang mengaku Muslim, tetapi tidak memiliki keimanan atas dasar Islam. Kedua adalah orang yang dalam hatinya mengaku Islam, tetapi tidak melaksanakan akhlak mulia dalam Islam. Orang seperti ini tidak digambarkan seperti orang kafir, tetapi disebut sebagai orang munafik.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar kata "munafik" diucapkan orang. Bila hal itu terjadi, biasanya perhatian kita langsung akan terpusat pada sosok yang disebut-sebut munafik tadi. Bahkan tidak jarang kita sendiripun tergoda untuk ikut menambahkan komentar (gibah) mengenai sosok sial yang disebut munafik ini. Lalu, sejauh mana sebetulnya pengetahuan kita tentang Munafik? Berikut adalah ciri-ciri orang munafik menurut Islam.

  1. Dusta
    Hadith Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad Jayid: "Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Yaitu seseorang yang berdusta agar orang-orang tertawa." Di dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta."

  2. Khianat
    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : "Dan apabila berjanji, dia berkhianat." Barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, atau kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada seseorang dengan mudah kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar'i maka telah melekat pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.

  3. Fujur
    Dalam Pertikaian Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam : "Dan apabila bertengkar (bertikai), dia melampau batas." Ingkar Janji " Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : "Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanah) dia berkhianat." (HR. Bukhari Muslim)

  4. Malas beribadah
    Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas." (An-Nisa': 142) . Jika orang munafik pergi ke masjid atau mushola, dia menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu rantai. Oleh karena itu, ketika sampai di dalam  dia memilih duduk di shaf yang paling akhir. Dia tidak mengetahui apa yang dibaca imam dalam sholat, apalagi untuk menyimak dan menghayatinya.

  5. Riya
    Di hadapan manusia dia sholat dengan khusyuk tetapi ketika seorang diri, dia mempercepat sholatnya. apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata'ala.

  6. Sedikit berzikir
    Firman Allah Subhanahu wata'ala : "Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah Subhanahu wata'ala kecuali sedikit sekali." (An-Nisa': 142).

  7. Mempercepat sholat
    Mereka (orang-orang munafik) adalah orang yang mempercepatkan sholat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun. Tidak ada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah Subhanahu wata'ala di dalamnya. Fikiran dan hatinya tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wata'ala dalam sholatnya. Hadith Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam : "Itulah sholat orang munafik, ... lalu mempercepat bilangan rakaat (sholatnya)"

  8. Mencela orang-orang yang taat dan shaleh
    Mereka memperolok orang-orang yang taat dengan ungkapan yang mengandung cemohan dan celaan. Oleh karenanya, dalam setiap majlis pertemuan sering kali kita temui orang munafik yang hanya memperbincangkan sepak terjang orang-orang soleh dan orang-orang yang konsisten terhadap Al-Quran dan As-Sunnah. Baginya seakan-akan tidak ada yang lebih penting dan menarik selain memperolok-olok orang-orang yang taat kepada Allah Subhanahu wata'ala

  9. Mengolok Olok Al Quran, As-Sunnah, dan Rasulullah
    Termasuk dalam kategori Istihzaa' (berolok-olok) adalah memperolok-olok hal-hal yang disunnahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu, jatuh Kafir. Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. " (At-Taubah: 65-66)

  10. Bersumpah palsu
    Firman Allah Subhanahu wata'ala : "Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai." (Al-Munafiqun: 2 & Al-Mujadilah: 16). Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain. Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya: "Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku."

  11. Enggan berinfak
    Orang-orang munafik memang selalu menghindari hal-hal yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana riya' dan sum'ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.

  12. Tidak menghiraukan nasib sesama kaum muslimin
    Mereka selalu menciptakan kelemahan-kelemahan dalam barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil, yiaitu sikap meremehkan, menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik percaya bahawa orang-orang kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.

  13. Suka menyebarkan berita bohong
    Orang munafik senang memperbesar peristiwa atau kejadian. Jika ada orang yang tergelincir lisannya secara tidak sengaja, maka datanglah si munafik dan memperbesarkannya dalam majelis-majelis ilmu. "Apa kalian tidak mendengar apa yang telah dikatakan si fulan itu?" Lalu, dia pun menirukan kesalahan tersebut. Padahal, dia sendiri mengetahui bahawa orang itu mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, akan tetapi si munafik itu tidak bersedia mengungkapkannya kepada masyarakat.

  14. Mengingkari takdir
    Orang munafik selalu membantah dan tidak ridha dpada takdir Allah Subhanahu wata'ala. Oleh kerananya, apabila ditimpa musibah, dia mengatakan: "Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, niscaya akan menjadi begini." Dia pun selalu mengeluh kepada sesama manusia. Sungguh, dia telah mengkufuri dan mengingkari Qadha dan Takdir.

  15. Mencaci maki kehormatan orang-orang shaleh
    Apabila orang munafik membelakangi orang-orang soleh, dia akan mencaci maki, menjelek-jelekkan, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka. Firman Allah Subhanahu wata'ala :"Mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan." (Al-Ahzab: 19)

  16. Sering meninggalkan sholat berjamaah
    Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu luang, dan tidak memiliki uzur sar'i, namun tidak mau mendatangi masjid / mushola ketika mendengar panggilan adzan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik.

  17. Membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan
    Firman Allah Subhanahu wata'ala : "Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan kebaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-12).

  18. Tidak sesuai antara zahir dengan bathin
    Secara Zahir mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang menyebabkan Mereka masuk ke dalam Neraka. Penampilan zahirnya bagus dan mempesona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan. Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya ia main-main.

  19. Takut terhadap kejadian apa saja
    Orang-orang munafik selalu diliputi rasa takut. Jiwanya selalu tidak tenang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan-persoalan hidup apapun. Dia selalu berharap: "Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan kami berubah." Padahal, keadaan tidaklah selalu apalagi menjadi lebih baik.

  20. Beruzur dengan dalih dusta
    Firman Allah Subhanahu wata'ala : "Di antara mereka ada orang yang berkata: 'Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.' Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Neraka Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." (At-Taubah: 49)

  21. Menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan
    Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang-orang beriman. Mereka menggembar-gemborkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konser, menyebarkan majalah-majalah porno (semi-porno) dan narkoba.

  22. Bakhil
    Orang-orang munafik sangat bakhil dalam masalah-masalah kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mau bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.

  23. Lupa kepada Allah Subhanahu wata'ala
    Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah Subhanahu wata'ala. Oleh sebab itu, mereka senantiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya, lagu-lagu, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat (berdzikir) kepada Allah Subhanahu wata'ala, kecuali sebagai tipu daya kepada sesama manusia.

  24. Mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya
    Firman Allah SWT: "Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya." (Al-Ahzab: 12).

  25. Lebih memperhatikan zahir, mengabaikan batin
    Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan yang batin, tidak menegakkan sholat, tidak merasa diawasi Allah Subhanahu wata'ala, dan tidak mengenal zikir. Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi batin mereka kosong, rusak ,dsb.

  26. Sombong dalam berbicara
    Orang-orang munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak omong dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan ungkapan menakjubkan yang meyakinkan agar tampak seperti orang hebat, mulia, berwawasan luas, mengerti, berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apapun. Sama sekali tidak memiliki ilmu, bahkan bodoh.

  27. Tidak memahami Ad din
    Di antara "keistimewaan" orang-orang munafik adalah: mereka sama sekali tidak memahami masalah-masalah agama. Dia tahu bagaimana mengenderai mobil dan mengerti perihal mesinnya. Dia juga mengetahui hal-hal remeh dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah memberi manfaat kepadanya meski juga tidak mendatangkan mudharat baginya. Akan tetapi, apabila menghadapi dialog (tanya-jawab tentang persoalan-persoalan Ad Din (Islam)), dia sama sekali tidak dapat menjawab.

  28. Bersembunyi dari manusia dan menentang Allah dengan perbuatan dosa
    Orang munafik menganggap ringan perkara-perkara yang melawan hukum Allah Subhanahu wata'ala, menentang-Nya dengan melakukan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah manusia dia menunjukkan kebalikannya; berpura-pura taat.

    Firman Allah Subhanahu wata'ala: "Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. "(An-Nisa': 108)

  29. Senang melihat orang lain susah, Susah bila melihat orang lain senang
    Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: "Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu. Semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau."Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan terhibur karena musibah itu.

Mari kita perkuat komitmen kita dalam mengamalkan aqidah Al-Wala’ dan Al-Baro’, yaitu mencintai apa dan siapa saja yang Allah perintahkan untuk dicintai dan membenci apa dan siapa saja yang Allah perintahkan untuk dibenci sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Keimanan kita bukan diukur dengan banyaknya ibadah kita, akan tetapi diukur dengan kepada siapa loyalitas kita, kita harus selalu bermuhasabah (introspeksi dan mawas diri) agar selalu berada dalam barisan orang-orang beriman dan berhati-hati agar tidak terperangkap dalam barisan orang-orang munafik.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Beberapa kesalahan dalam berwudhu


Wudhu memiliki kedudukan yang penting dalam Islam. Tidak sempurnanya wudhu seseorang dapat menyebabkan sholat yang ia kerjakan menjadi tidak sah, sedangkan sholat adalah merupakan salah satu rukun Islam. Oleh karena itu wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk memperhatikan bagaimana ketika dia berwudhu.

Di antara syarat syah wudhu adalah setiap anggota tubuh harus terkena basuhan. Dan jika ada bagian yang mesti dicuci, maka harus dicuci, tidak hanya cukup diusap. Jika ada bagian anggota tubuh yang tertutupi kotoran, seperti cat atau tipe-x dan sebagainya, maka harus dihilangkan. Jika tidak dan air tidak mengenai kulit atau kuku, maka membuat wudhunya menjadi tidak sah.

Setelah berwudhu, terkadang kita melihat mata kaki masih kering tak terbasuh oleh air wudhu. Begitu pula dengan tumit yang masih kering, begitu pula bagian siku kita yang masih kering tak terbasuh oleh air.

Banyak di antara kaum Muslimin yang ketika mencuci/membasuh kaki saat berwudhu tidak memperhatikan tumitnya. Mereka tergesa-gesa ketika berwudhu, hanya sekadar menjulurkan kaki di bawah kran air yang mengalir, sehingga ada banyak bagian dari tumitnya yang tidak terbasuh dengan air. Ini adalah kesalahan yang harus kita perbaiki, sehingga menyebabkan salat yang kita tunaikan menjadi tidak syah pula.

Ada hadits yang membicarakan ancaman bagi orang yang tidak berwudhu dengan sempurna. Dalilnya adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الصَّلاَةَ صَلاَةَ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا ، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ » . مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثً

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Kami pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam suatu safar. Kami lalu menyusul beliau dan ketinggalan shalat, yaitu shalat ‘Ashar. Kami berwudhu sampai bagian kaki hanya diusap (tidak dicuci). Lalu beliau ﷺ memanggil dengan suara keras dan berkata: “Celakalah tumit-tumit dari api Neraka.” Beliau ﷺ menyebut dua atau tiga kali. (HR. Bukhari no. 96 dan Muslim no. 241).

Yang namanya diusap, berarti tangan cukup dibasahi lalu menyentuh bagian anggota wudhu, tanpa air mesti dialirkan. Dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata:

رَجَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرِ فَتَوَضَّئُوا وَهُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ »

“Kami pernah kembali bersama Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah hingga sampai di air di tengah jalan, sebagian orang tergesa-gesa untuk shalat ‘Ashar. Lalu mereka berwudhu dalam keadaan terburu-buru. Kami pun sampai pada mereka dan melihat air tidak menyentuh tumit mereka. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Celakalah tumit-tumit dari api Neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian.” (HR. Muslim no. 241).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: “Hadis di atas adalah ancaman untuk tumit (perkara yang kecil), namun ancaman ini berlaku juga untuk hal yang lebih dari itu. Karena jika tidak dimaafkan yang sepele seperti tumit, maka yang lebih dari itu tentu tidak dimaafkan.” (At Ta’liqot ‘ala ‘Umdatil Ahkam, hal. 26).

Hadits ini juga menerangkan wajibnya menyempurnakan wudhu dan perintah membasuh anggota-anggota wudhu. Yang luput dari hal ini, ia terjerumus dalam dosa besar karena diancam dengan Neraka seperti itu. Diterangkan oleh Syaikh As Sa’di di halaman yang sama.

Syaikh As Sa’di juga mengatakan: “Jika menganggap sepele dalam berwudhu tercela, begitu pula berlebihan dan mendapati was-was dalam wudhu juga sama tercela.” (At Ta’liqot ‘ala ‘Umdatil Ahkam, hal. 26).

Makna Global :

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari menggampangkan dan meremehkan dalam perkara wudhu’, serta menganjurkan untuk benar-benar memperhatikan kesempurnaannya.

Hal ini karena, biasanya bagian belakang kaki, air wudhu’ tidak sampai padanya. Sehingga menyebabkan adanya celah yang mempengaruhi thoharoh (bersuci) dan sholat. Beliau juga memberitahukan bahwa adzab akan menimpanya dan menimpa orang yang menggampangkan dalam pekara bersuci yang syar’i.

Faidah yang terdapat dalam Hadis :

  1. Wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki dengan air secara sempurna ketika berwudhu. Tidak cukup hanya dengan mengusapnya. Sebab seandainya dengan mengusap saja cukup, niscaya Nabi ﷺ tidak akan memberikan ancaman Neraka bagi orang yang tidak membasuh/mencuci kedua tumitnya. Demikian penjelasan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abdil Barr, dan an-Nawawi.

    Dalam sebagian riwayat Muslim dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Celakalah mata kaki -yang tidak terbasuh air itu- karena jilatan api Neraka.” Dalam riwayat ini juga dikatakan, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ melihat seorang lelaki yang tidak membasuh kedua tumitnya, lantas beliau ﷺ memberikan teguran keras semacam itu. Sehingga hal ini menjadi bantahan bagi kaum Syiah yang hanya mewajibkan mengusap kaki. Ini adalah pendapat yang batil, menyelisihi Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta Ijma’ umat Islam. Allah ta’ala berfirman :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ… “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” [QS. Al Maidah: 6]

    Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Para sahabat Rasulullah ﷺ sepakat mengenai wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki.” Lihat Syarh Muslim [3/29-32], Fath al-Bari [1/319-320], al-Istidzkar [2/51].

  2. Menunjukkan siksa Neraka ada dua macam. Pertama siksaan yang sifatnya menyeluruh tanpa terkecualikan (seluruh badan). Dan yang kedua adalah siksaan yang sifatnya parsial, seperti disebutkan dalam hadis. Hanya tumitnya saja yang disiksa tanpa anggota tubuh yang lain.

  3. Perintah untuk menyempurnakan wudhu. Yang dimaksud menyempurnakan wudhu adalah menunaikan hak masing-masing anggota badan yang dibersihkan/dibasuh ketika wudhu Lihat Taudhih al-Ahkam [1/217], Syarh Muslim [3/41]

  4. Termasuk dalam perintah menyempurnakan wudhu adalah menyela-nyelai jari-jari kaki dengan air. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dan dihasankan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma :

    “Apabila kamu berwudhu, maka sela-selailah jari tangan dan jari kakimu.”

    Hadis semakna juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Laqith bin Shabirah radhiyallahu’anhu yang disahkan oleh Tirmidzi sendiri, al-Baghawi dan Ibnu al-Qaththan Lihat Nail al-Authar [1/182] dan Tuhfat al-Ahwadzi [1/149-150].

  5. Barang siapa meninggalkan anggota wudhu tidak terbasuh oleh air, meskipun hanya selebar kuku, maka wudhunya tidaklah sah. Berkata Al Imam An Nawawy: Ini adalah perkara yang telah disepakati (oleh para ulama). Telah diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Umar Ibnul Khattab, beliau berkata:

    أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

    “Bahwa seorang laki-laki berwudhu, lalu meninggalkan (kering) selebar kuku di atas kakinya. Saat Nabi ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ pun bersabda: “Kembali dan perbaguslah wudhumu.” Maka dia kembali (berwudhu) kemudian melakukan shalat.”

Demikianlah sedikit paparan mengenai sekelumit kesalahan dalam berwudhu yang banyak kita jumpai pada kaum Muslimin khususnya di negeri kita ini, semoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih memperhatikannya lagi. Wallohu a’lam bish showab.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Keutamaan umrah dan haji


Setiap orang pasti merindukan tanah suci, apalagi Ka’bah di tanah haram Makkah. Di tempat tersebut ada dua aktivitas ibadah yang mulia yaitu umrah dan haji. Untuk umrah sendiri bisa dilakukan setiap saat. Sedangkan haji hanya khusus di bulan haji, bulan Dzulhijjah.

Kalau ditanya “Apakah anda mau umrah?”. Semua orang pasti menjawab “Mauuuu”. Tapi ketika ditanya seberapa besar niatnya dan apa yang sudah diusahakan mungkin hanya bisa diam. Hal ini karena kebanyakan kita hanya ingin, tapi belum niat dan bersungguh-sungguh.

Nah, mengapa kita masih belum niat dan sungguh-sungguh, hal ini karena biasanya kita masih belum tau ilmunya, belum tau keutamaan dan manfaat umroh, beserta ancaman dibaliknya bagi yang tidak bersegera.

Kita mulai dengan keutamaan-keutamaannya :

  • Karena umroh adalah panggilan Allah
    “Dan berserulah kepada Manusia Untuk Mengerjakan Haji, Niscaya Mereka Akan Datang Kepadamu Dengan Berjalan Kaki, Dan Mengendarai Unta Yang Kurus Yang Datang Dari Segenap Penjuru Yang Jauh.” (QS. Al-Hajj: 27–28)

    Bahkan mayoritas Ulama mengatakan bahwa Umrah wajib sekali seumur hidup dengan melihat digandengnya kata haji dan umrah di ayat ini :

    “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196).

    Tinggal bagaimana sikap kita dalam menanggapi seruan dan panggilan Allah ini.

  • Niat mengikuti sunah Nabi Muhammad, umrah kemudian Insya Allah haji
    Dari Qotadah, “Saya Bertanya Kepada Sahabat Anas Ra,Berapa Kali Nabi Saw Menunaikan Ibadah Umroh?” Beliau Menjawab: “empat kali umroh, 1-umroh perjanjian Hudaibiyyah di bulan Dzul Qo’dah, saat dihadang oleh orang-orang musyrik, 2-umroh tahun berikutnya di bulan Dzul Qo’dah, sesuai kesepakatan sebelumnya, 3-umroh dari Ji’ronah, ketika beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang). Aku menduga yang dimaksudnya adalah ghanimah perang Hunain.- Qotadah bertanya, “Berapa kali Nabi Saw berhaji?” Anas Ra menjawab, “Satu kali, (sekaligus berumroh yang ke-4.” ( HR. Bukhori)

  • Dikabulkannya semua doa dan keinginan
    Jabir bin abdillah berkata, “Rumah ini (Baitullah) adalah tiang Islam, maka barang siapa yang berangkat menuju rumah ini, baik untuk mengerjakan haji atau umroh, maka telah dijamin oleh Allah, jika ia meninggal akan dimasukkan-Nya ke surga, dan jika kembali akan diberkahi dengan oleh-oleh pahala”. (HR Ibnu Jureij dengan sanad hasan).

    “Orang-orang yang mengerjakan haji dan umroh adalah dutanya Allah ‘Azza wa Jalla, Dia berikan kepada mereka apapun yang menjadi permintaanmereka, Dia kabulkan apapun doa mereka, Dia gantikan untuk mereka semua biaya, satu dirham diganti satu juta dirham.” (HR. Al-Bayhaqi)

    Niatkanlah kesana bukan sebagai tujuan, tapi sebagai wasilah (jalan) untuk bisa meraih kebaikan-kebaikan besar lainnya melalui doa yang kita ajukan disana. Maka sungguh tak ada ruginya berangkat kesana, bahkan Allah ganti 1 juta kali lipat biaya yang kita keluarkan.

  • Menghindari ancaman jika tidak bersegera
    Ada beberapa hadist yang menunjukkan bahwa jika kita sudah diberikan kemampuan dan tidak bersegera, maka Allah halangkan kita dari kebaikan-kebaikan yang tak terbatas.

    Rasulullah Saw Bersabda: “Allah Berfirman: “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghadiri undangan-Ku (haji/umroh), maka sungguh dia orang yang benar-benar terhalang ( dari kebaikan tak terbatas — dunia akhirat )”. (HR. Ibnu Hibban Dan Dishahihkan Oleh Al Albani Di Dalam Kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, №1662)

Maka bagi seorang muslim, kapan saja dia telah memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji atau umroh, hendaklah ia bersegera untuk menunaikannya, sebagai kewajiban yang harus dilaksanakannya, dan dalam rangka berharap untuk melihat rumah Allah yang ia hadapkan wajah ke arahnya di setiap shalat, dan juga dalam rangka berharap agar dapat menyaksikan berbagai manfaat yang telah Allah syaratkan dalam firman-Nya:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (QS Al-Hajj: 28).
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS