Hak-hak sesama muslim


Islam adalah agama kasih sayang dan mengajarkan untuk memperhatikan hak terhadap sesama. Islam mengatur etika pergaulan sesama muslim. Muslim yang dimaksudkan dalam hadits yang ditunaikan haknya di sini adalah muslim yang bersyahadat laa ilaha illallah dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan keislamannya.

Berikut ini, akan kami berikan penjelasan tentang hak muslim terhadap muslim lainnya yang harus dilakukan di tengah hidup bermasyarakat supaya bisa tercipta hubungan yang harmonis diantara sesama umat muslim.

  1. Mengucapkan salam
    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Demi Allah tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan rasa cinta di antara kalian?, Sebarkan salam di antara kalian” (HR. Muslim).

    Beberapa pelajaran mengenai ucapan salam :

    • Hendaklah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal;
    • Tetap mengucapkan salam kepada siapa pun meskipun ahli maksiat selama itu muslim;
    • Tidak boleh mengucapkan salam kepada lawan jenis jika menimbulkan godaan, apalagi sesama yang berusia muda;
    • Memulai mengucapkan salam disunnahkan. Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya menyatakan bahwa para ulama berijma’ (bersekapat), memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Adapun menjawab salam dihukumi wajib sebagaimana pemahaman dari surah An-Nisa’ ayat 86;
    • Ucapan salam yang sederhana adalah “Assalaamu ‘alaikum”, sedangkan yang paling sempurna adalah “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh”;
    • Jawaban salam yang sederhana adalah “Wa’alaikumus salaam” (bisa juga dengan ‘alaikumus salaam), sedangkan yang paling sempurna adalah “Wa’alaikumus salaam wa rahmatullah wa barakatuh”;
    • Tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada non-muslim. Namun jika ia mengucapkan salam, hendaklah membalas salamnya dengan ucapan semisal yang ia ucapkan (tidak lebih dari itu), berarti jika ia mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum”, maka dijawab “Wa’alaikumus salaam”. Begitu pula jika ia ucapkan “Assaamu ‘alaikum (celaka kamu)”, maka dijawab “Wa ‘alaikum” atau “Wa’alaikumus saam” (celaka juga kamu);
    • Ucapan salam lebih mulia dari ucapan “selamat pagi” dan semacamnya. Ucapan selamat semacam ini bukanlah ucapan yang syar’i dan sama sekali tidak bisa menggantikan ucapan salam;
    • Membalas salam bukanlah dengan ucapan “ahlan” atau “ahlan wa sahlan”, ini bukanlah ucapan yang syar’i dalam menjawab salam.
    • Dalam ayat disebutkan (yang artinya), “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa’: 86);

      Dalam hadits disebutkan bahwa jika bertemu, maka ucapkanlah salam. Apakah saat berpisah juga memberi salam? Ada hadits yang berbunyi, “Jika hadir dalam majelis, hendaklah memberi salam. Jika berdiri dari majelis, hendaklah memberi salam. Yang mengucapkan pertama kali itu lebih utama dari yang mengucapkannya belakangan.” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706; Ahmad, 12:47. Sanad hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 183);
    • Yang afdal adalah yang junior memulai mengucapkan salam kepada yang senior, yang sedikit kepada yang banyak, yang naik kendaraan kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk. Namun jika tidak ada yang memulai dahulu, maka salam tersebut tetap diucapkan, itulah yang lebih baik. Dalam hadits disebutkan, “Khoiruhaa alladzi tabda’u bis salaam”, yang terbaik adalah yang pertama kali mengucapkan salam.


  2. Memberikan nasehat
    Wajib memberikan nasihat kepada saudara kita ketika ia meminta nasihat. Berarti jika ia tidak meminta, maka tidaklah wajib. Namun jika kita tidak dimintai nasihat, lantas jika ada mudharat atau dosa, maka wajib tetap menasihati karena ini adalah bentuk menghilangkan kemungkaran pada saudara muslim. Sedangkan jika saudara kita tidak meminta nasihat dan tidak ada mudharat atau dosa kala itu, juga menganggap bahwa selain kita itu lebih manfaat dalam memberi nasihat, maka kita tidak wajib menasihati (hanya disunnahkan) karena termasuk dalam bentuk memberikan petunjuk kebaikan kepada orang lain.

  3. Menjawab hamdalah saat bersin
    Wajib mengucapkan tasymit (yarhamukallah) ketika ada yang bersin lantas mengucapkan alhamdulillah. Berarti jika yang bersin tidak mengucapkan alhamdulillah, maka tidak ada ucapan tasymit (yarhamukallah). Intinya, jika luput dari mengucapkan alhamdulillah, akan ada dua kerugian: (1) nikmat memuji Allah hilang; (2) nikmat didoakan oleh saudaranya ketika mendengarnya mengucapkan alhamdulillah juga hilang.

    Tasymit adalah mengucapkan yarhamukallah jika ada yang mengucapkan alhamdulillah sampai tiga kali. Jika sudah yang keempat kalinya, maka ucapkanlah doa agar ia diberikan kesembuhan karena yang bersin itu berarti sedang sakit, lantas mengucapkan “yahdikumullah wa yushlih baalakum” (semoga Allah memberimu hidayah dan memperbaiki keadaanmu). Lalu jika non-muslim mengucapkan alhamdulillah saat bersin, tidak dibalas dengan yarhamukallah, namun langsung mengucapkan yahdikumullah wa yushlih baalakum” sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkan hal ini.

  4. Memenuhi undangan
    Apabila ada sesama muslim yang mengundang anda untuk datang ke acara makan atau acara lainnya, maka hak yang harus dilakukan antara sesama muslim adalah untuk memenuhi undangan tersebut. Memenuhi sebuah undangan adalah sunnah mu’akkadah yang bisa menarik hati bagi orang yang mengundang dan juga menimbulkan cinta serta kasih sayang. Terkecuali dalam hal ini adalah tentang undangan pernikahan. Undangan pernikahan merupakan hal yang wajib dengan syarat yang sudah dikenal. “Dan siapa yang tidak memenuhi (undangannya) maka dia telah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

    Hadits diatas menjelaskan jika seseorang mengundang anda maka penuhilah undangan tersebut termasuk dalam memberikan pertolongan yang sedang dibutuhkan orang tersebut. “Setiap mu’min satu sama lainnya bagaikan bangunan yang saling menopang” (HR. Bukhori dan Muslim).

  5. Mengantar jenazah
    mengantarkan jenazah ke pemakaman dan hukumnya adalah fardhu kifayah. Ini berlaku bagi jenazah yang dikenal maupun tidak dikenal.

    “Siapa yang mengantarkan jenazah hingga menshalatkannya maka baginya pahala satu qhirath, dan siapa yang mengantarkannya hingga dimakamkan maka baginya pahala dua qhirath”, beliau ditanya: “Apakah yang dimaksud qhirath ?”, beliau menjawab: “Bagaikan dua gunung yang besar“ (HR. Bukhori dan Muslim).

  6. Menjenguk orang sakit
    menurut jumhur ulama adalah sunnah. Namun bisa jadi menjenguk orang sakit itu menjadi wajib jika yang dijenguk adalah kerabat dekat (masih punya hubungan mahram). Misal menjenguk ayah atau ibu yang sakit, hukumnya wajib karena bagian dari berbakti kepada keduanya. Juga menjenguk saudara yang sakit, hukumnya wajib karena bagian dari silaturahim dengan kerabat. Kaidahnya, makin dekat hubungan kerabat dan makin dekat dalam hubungan, maka makin ditekankan untuk menjenguk saat sakit.

    Yang dijenguk di sini adalah orang yang sakit secara umum, baik yang sakit masih dalam keadaan sadar ataukah tidak. Begitu pula dianjurkan meskipun yang datang menjenguk tidak diketahui kehadirannya oleh yang sakit. Karena menjenguk orang sakit punya manfaat: (1) mengurangi duka keluarganya; (2) mendoakan kebaikan kepada yang sakit; (3) menjenguknya sendiri berbuah pahala.

  7. Tidak saling membenci
    Hak antara sesama musim lainnya adalah untuk tidak saling mendengki antara sesama muslim, memendam perasaan dendam pada sesama muslim atau pun berprasangka buruk pada sesama muslim.

  8. Mengharapkan sesuatu yang baik
    Sesama muslim juga harus selalu mengharapkan segala sesuatu yang baik bagi sesama muslim lainnya seperti yang diharapkan untuk diri sendiri. Selain itu, hak muslim juga untuk membenci segala sesuatu yang tidak baik bagi mereka seperti juga membenci hal tidak baik tersebut untuk diri sendiri.

  9. Membantu saat teraniaya
    Antara muslim dan muslim lainnya juga harus saling membantu apabila ada saudara sesama muslim yang sedang dianiaya. Sudah menjadi hak muslim untuk menolong sesama muslim yang sedang teraniaya dan berada dalam situasi yang membuat dirinya lemah.

    Hal ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Bantulah saudaramu apabila ia menjadi orang yang menganiaya atau orang yang teraniaya”. Seorang sahabat bertanya: Kita memang membantunya jika ia menjadi orang yang teraniaya, tetapi bagaimana pula boleh kita membantunya, jika ia menjadi orang yang menganiaya? Jawab Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: Kita melarangnya dari menganiaya orang lain itulah berarti kita membantunya.”

  10. Tidak saling mencaci dan mendengki
    Hak sesama muslim lainnya adalah untuk tidak saling mencaci dan mendengki antara sesama muslim. Selain itu, tidak juga untuk saling bersaing dalam urusan tawar menawar apabila sedang berhajat atau hendak membeli sesuatu.

    Hal ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kamu dengki-mendengki, jangan bersaingan dalam tawar-menawar (sedang kamu tiada berhajat untuk membeli), jangan bermusuh-musuhan, dan jangan seseorang kamu menambah harga atas sesuatu barang yang telah dibeli oleh setengah kamu, dan jadilah kamu sekalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain, tidak boleh menganiayanya, atau merendahkan kedudukannya, menghinanya, atau mendustakannya. Taqwa berada di sini, sambil baginda mengisyaratkan ke dadanya (disebutkannya tiga kali). Memadailah seorang manusia itu dikira telah berbuat jahat dengan menghina seorang saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain, haram darahnya dan hartanya dan kehormatan dinnya.”

  11. Membantu dalam kesusahan
    Sesama muslim juga memiliki hak untuk melepaskan seorang muslim yang lain dari kesusahan yang berhubungan dengan duniawi. Dengan melakukan hal ini, maka niscaya Allah juga akan melepaskan kita dari kesusahan yang akan dirasakan pada hari kiamat nanti.

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melepaskan seorang Muslim suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskannya suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan Hari Kiamat. Barang siapa yang meringankan suatu kesempitan seorang, niscaya Allah akan meringankan kesempitannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup (keaiban) seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup (keaiban)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa bersedia untuk membantu hambaNya, selama hamba itu senantiasa bersedia untuk membantu saudaranya.”

  12. Mengambil berat urusan muslim lain
    Antar umat muslim juga memiliki hak untuk mengambil berat berhubungan dengan keperluan saudara sesama muslim supaya nantinya Allah juga akan mengambil berat terhadap segala sesuatu yang diperlukan.

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa senantiasa mengambil berat tentang keperluan saudaranya, niscaya Allah senantiasa mengambil berat terhadap keperluannya”. Sabda-Nya lagi, “Barang siapa tiada mengambil berat terhadap urusan kaum Muslimin, maka dia bukanlah dari golongan mereka sendiri.”


Sumber :Masjid Al Maáarij Balikpapan
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Menyikapi Musibah


Secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan musibah menimpa dirinya. Musibah merupakan hal berat yang terkadang sulit untuk kita terima. Bagi seorang mukmin yang bertawakal kepada Allah, musibah yang terjadi dan menimpa dirinya, akan dipandangnya sebagai ujian hidup dan pilihan terbaik dari Allah Subhanahu wata'ala untuk dirinya.

Bagi seorang mukmin tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena kehendak Allah Subhanahu Wata'ala, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan sepatutnya menjadi bahan muhasabah atau tazkirah (peringatan) apa sebenarnya yang sedang Allah rencanakan untuk kita.

Membahas mengenai musibah, secara definisi sebenarnya adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu kafir maupun mukmin. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah : 21).

Dalam Al-Qur’an, ada dua terminologi yang menunjuk makna musibah yaitu bala’ dan adzab. Adapun adzab lebih banyak digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman terhadap para pendosa dan orang-orang yang melampaui batas. Adzab hanya ditujukan kepada para pendosa atau orang kafir, sedangkan bala lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada orang mukmin maupun kepada orang yang baik-baik.

Jika musibah menimpa seorang mukmin, maka pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah Subhanahu wata'ala. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah menyatakan, "Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah Subhanahu wata'ala akan memberikan bala, ujian atau cobaan". Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mukmin itu adalah sebagai bentuk kasih sayang.

Jika yang menimpa orang kafir itu adzab, seperti banjir Nabi Nuh dimana yang selamat hanya orang beriman saja yang mengikuti ajaran Nabi Nuh. Begutu juga kisah kaum Nabi Luth hancur tapi hanya orang yang sholeh selamat. Kemudian kisah Nabi Shaleh dimana yang ditimpa wabah penyakit aneh yang mengerikan, kaum yang beriman kepada Nabi Shaleh walaupun rumahnya bersebelahan tidak terkena penyakit sedangkan yang kafir dimusnahkan oleh penyakit yang mengerikan. Pasukan Abrahah hancur lebur karena diadzab Allah dengan batu yang dilontarkan oleh burung Ababil tetapi di tempat di sekitarnya tidak apa-apa. Adalagi wabah semua yang memakan daging unta Nabi Shaleh dan Nabi Syuaib semuanya kena virus, tapi yang tidak makan tidak kena virus. Jadi, memang adzab itu ditujukan kepada orang-orang yang memang durhaka.

Perbedaan antara musibah bala dan adzab hanya terletak pada skalanya. Adzab skalanya lebih besar dan lebih luas, sedangkan bala skalanya lebih terbatas dan umumnya bersifat personal. Sebab musabab musibah terkadang sulit dijelaskan karena lebih banyak bersifat makro dan akumulatif, sedangkan bala lebih banyak bersifat mikro dan kasuistik, misalnya kecerobohan seseorang berpotensi mendatangkan bala.

Kalau musibah, itu lebih bersifat ujian untuk menguji ketebalan iman kita. Tapi itu tingkatnya lebih massif (tidak memilih agama, warna kulit, jenis kelamin apapun). Sedangkan bala’ itu lebih bersifat individual dan mekanikal sifatnya. Karena itu yang ditimpa bukan hanya yang beriman saja. Di situ ada yang durhaka, pendosa dan juga menimpa kepada mereka yang beriman. Kalau musibah itu unsur-unsur dimensinya lebih bersifat positif sedangkan adzab agak negatif.

Hal inilah yang menjadikan seoarang mukmin itu harus senantiasa berpikir positif dan optimis dalam mengarungi kehidupannya, sekalipun harus menghadapi berbagai ujian, atau kenyataan paling pahit dalam hidupnya. Seorang mukmin itu tidak akan mudah patah dan berputus asa, karena ia yakin bahwa setiap kejadian pastilah sudah dalam kehendak dan takdir Allah Subhanahu Wata'ala.

Bagaimana kita harus menyikapi musibah ?

  1. Segala peristiwa ini semua adalah semata-mata ujian dari sang Maha Kuasa atas seluruh alam semesta ini, dan ketika kita bisa melaluinya maka Allah Subhanahu wata'ala akan menaikkan derajat keimanan kita. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, ”Siapa yang akan diberi limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu.” (HR Bukhari Muslim).

  2. Semua ujian haruslah kita hadapi dengan kesabaran, karena kesabaran adalah sebuah tanda lulusnya sebuah ujian, seperti pada sebuah hadis : ”Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman seluruh perkaranya menjadi baik. Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu membawa kebaikan baginya. Dan ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya.” (Al-Hadits).

  3. Seberat apapun ujian yang berupa musibah di alam raya ini, kita yakin Allah pasti sudah proprosional dalam mengujinya dan tidak akan melebihi dari kesanggupan dalam menjalaninya bagi orang yang tertimpa.”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah : 286).

  4. Apapun bentuk musibah yang di derita oleh seorang muslim, baik itu berupa kesususahan, penderitaan maupun penyakit, Allah akan menghapus sebagian kesalahan dan dosa, dengan demikian derajat para korban bencana akan mulia, bagi yang meninggal dunia dia akan mati syahid dan bagi yang masih hidup tentunya dengan kesabaran atas penderitaan itu Allah akan hapus sebagian kesalahan dan dosa dosanya.

  5. Bagi kita yang tidak secara langsung mengalami musibah itu, hendaknya kita jadikan peristiwa itu sebagai momentum untuk menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah, sehingga akan menguatkan iman kita pada sang pencipta alam semesta.
Dengan musibah, Allah Subhanahu Wata'ala hendak menguji siapa yang paling baik amalnya. Musibah bukan sekedar peristiwa alamiah biasa tetapi juga merupakan peringatan untuk kita agar kembali kepada Allah.

Jadi .. musibah harus dimaknai : Pertama, pembersih dosa masa lampau. Kedua, pembelajaran buat kita supaya langkah-langkah kita ke depan jangan mengulangi yang salah sehingga jatuh di lubang yang sama. Ketiga, penghayatan, pendalaman, pemahaman, terhadap musibah sangat penting agar kita bisa menghadapi dengan ikhlas dan tidak berputus asa dari rahmat-NYA. Wallahu A’lam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Jangan Buat ALLAH Cemburu


Cemburu merupakan refleksi dari perasaan cinta yang muncul ketika orang yang dicintai melakukan tindakan tidak sesuai. Tidak hanya terjadi pada manusia, ternyata Allah Azza Wajala juga cemburu kepada hamba-Nya.

Bahkan dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa tidak seorang pun cemburu melebihi dari cemburunya Allah. Jika manusia bisa begitu murka ketika terbakar cemburu, maka bagaimana dengan cemburunya sang maha pencipta ini?

Manusia sejatinya harus memahami kecemburuan Allah SWT. Ini untuk menghindari kemurkaan karena manusia sudah terlalu jauh dari-Nya. Caranya adalah dengan menghindari hal-hal yang membuat Allah SWT cemburu. Lantas apa saja tindakan tersebut?
Berikut ulasannya ..

Cemburu sebenarnya adalah fitrah manusia dan bukan merupakan sifat Allah yang berbeda dengan makhluk. Kata ini dalam hadist Rasulullah merupakan diksi untuk melukiskan sebuah ilustrasi rasa, kata indah untuk mendeskripsikan sebuah suasana bahwasannya Dzat Maha Pencipta Allah Aza Wajala yang menggenggam Cinta atas hamba-Nya.

Salah satu yang membuat Allah SWT cemburu adalah ketika manusia berbuat sesuatu yang keji. Hal ini dijelaskan Nabi Muhammad dalam hadis riwayat Bukhari berikut ini.

“Tidak ada sesuatu yang lebih cemburu selain Allah, karena itu Dia mengharamkan Segala macam kekejian.” (H.R Bukhari).

Dalam riwayat lain, dari Aisyah Radiyallahu Anha diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah dalam sebuah khutbahnya begitu menggebu-gebu ketika menjelaskan tentang ini. Saat itu terjadi gerhana matahari, setelah shalat bersama sahabat, beliau saw berdiri dalam mimbar dan berpesan panjang, diakhir khutbah itu Rasulullah bersabda yang artinya:

“…Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan”. (H.R Muslim No.1499)

Rasulullah saw bersabda; “Tidak ada seorangpun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji” (H.R Bukhari  dan Muslim)

Jika kita menyadari akan semua yang telah Allah berikan pada kita selama ini, maka kita akan mengetahui betapa Allah sangat mencintai kita. Hingga Ia cemburu jika kita melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan-Nya. Karena sesungguhnya Allah tahu, hal-hal yang diharamkan oleh-Nya adalah hal yang akan merusak diri kita sendiri. Allah hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada diri kita. Allah hanya menginginkan kita bahagia, bahkan tidak hanya sekadar bahagia tapi sangat-sangat bahagia.

Kesimpulan :

  1. Selayaknya seorang hamba meninggalkan maksiat, karena dapat menyebabkan murkanya Allah ta'ala.
  2. Allah ta'ala membenci kekufuran, kesyirikan , kefasikan dan kemunafikan.
  3. Allah ta'ala memiliki sifat cemburu sesuai dengan ke Maha Besar-NYA.
  4. Hadits ini mengajarkan sifat muroqobah atau merasa senantiasa diawasi Allah, dan takut akan adzab dan siksa-NYA, dengan cara menjauhi apa-apa yang dilarang-NYA.

Sahabatku ... Jauhilah setiap perkara yang diharamkan Allah ta'ala, karena dengannya Allah akan cemburu padamu. Takutlah kita terhadap adzab dan murka Allah yang bisa saja menimpamu sewaktu-waktu, dan terlebih lagi takutlah pada kekalnya adzab neraka Jahannam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Berbaik sangka

 

Manusia tak selamanya benar dan tak selamanya salah, kecuali mereka yang selalu mengoreksi diri dan membenarkan orang lain atas kekeliruan diri sendiri. Manusia lebih sering berprasangka, karena mereka hanya dapat melihat apa yang terlihat oleh mata. Mereka tak dapat melihat apa yang diungkap oleh hati dan itulah keterbatasan manusia. Namun keterbatasan itulah yang justru membuat manusia saling berprasangka kepada manusia lainnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya dari prasangkaan itu merupakan dosa..” (QS. Al-Hujurat : 12).

Pada umumnya harga kebaikan manusia diukur dari apa yang telah diperbuatnya, kita berprasangka bahwa orang yang berkata kasar adalah orang jahat. Padahal, bisa jadi ia adalah orang yang sangat lembut hatinya.

Kita lebih sering berprasangka bahwa orang yang tidak memakai jilbab adalah orang yang paling ingkar. Padahal, bisa jadi hatinya berteriak ingin menutup aurat, hanya kesempatan dan keberanian yang belum ia dapatkan.

Lebih sering kita berprasangka bahwa orang yang tidak pernah tersenyum adalah orang yang paling cuek. Padahal, bisa jadi ia adalah orang yang paling peduli dalam diamnya. Hanya saja kita tak tahu bagaimana ia mengutarakan kepeduliannya.

Kita lebih sering berprasangka bahwa orang yang pandai bermaksiat akan masuk neraka. Padahal, bisa jadi ia lebih dulu masuk surga karena tangisan taubatnya.

Sebagai seorang Muslim kita diharuskan untuk senantiasa menjaga hati untuk tidak berprasangka buruk. Karena prasangka bisa menimbulkan permusuhan dan perpecahan serta merusak jalinan silaturahim sesama Muslim. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إياكم والظنَّ، فإنَّ الظنَّ أكذب الحديث

“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta, Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalilan mencari-cari aurat atau cacat atau cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana Dia perintahkan. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan atau bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini takwa itu di sini. (Beliau mengisyaratkan ka arah dadanya). Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati dan amalan kalian.”  (HR. Bukhari-Muslim).

Kita lebih sering berprasangka kepada orang lain, hingga lupa untuk berprasangka kepada diri yang lebih sering alpa. Allah ciptakan hati agar kita pandai merasa, pandai berpikir positif kepada orang lain. Namun sayang, kita lebih sering menggunakannya untuk berprasangka buruk.

Kita lebih sering menilai seseorang dari luarnya tanpa kita tahu lebih dalam tentang orang tersebut. Kita tak berhak untuk menilai seseorang itu baik atau buruk, karena pada hakikatnya hanya Allah-lah yang berhak menilai manusia itu baik atau buruk.

Bukankah akan lebih baik saat kita mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan, kita segera mencari alasan atau udzur yang masuk akal sehingga hati anda tenang. Ini sesuatu yang tidak mudah, namun bagi orang yang terbiasa berfikir positif semua bisa diusahakan, biidznillah! Dengan selalu bersu’uzhon(berburuk sangka) hati akan selalu gelisah, sebaliknya ketika anda mengedepankan prasangka baik kepada saudara anda, Insya Allah anda akan merasa bahagia dan banyak bersyukur pada Allah Ta’ala.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”.

Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala , ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

Sumber :Masjid Al Maáarij Balikpapan
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS