Kepompong Ramadhan


Ramadhan punya makna tersendiri di hati umat Islam. Bulan ini adalah bulan rihlah ruhaniyah (wisata rohani). Umat Islam melepas belenggu materialisme dunia dengan menghidupkan dunia ruhiyah. Sebulan penuh umat Islam menjalani proses tadzkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sebulan penuh umat Islam melakukan riyadhatur ruhiyah (olah rohani). Sebulan penuh umat Islam bagai ulat dalam kepompong Ramadhan. Diharapkan di akhir Ramadhan kondisi rohani kita dapat mempesona seperti kupu-kupu.

Mari kita introspeksi amal-amal apa saja yang telah kita lakukan dihari kesepuluh bulan Ramadhan ini, agar kita bisa memperoleh derajat takwa?

1. Berpuasa (Shiyam) 
Amal yang utama di bulan Ramadhan tentu saja berpuasa. Hal ini diperintahkan Allah Subhanahu Wata'ala dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183-187. Karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan kita tentang puasa yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. Sebab, puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati. Kata Rasulullah SAW, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi) 

Jangan pernah tidak berpuasa sehari pun tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Meninggalkan puasa tanpa uzur adalah dosa besar dan tidak bisa ditebus meskipun orang itu berpuasa sepanjang masa. “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup,” begitu kata Rasulullah SAW. (HR. At-Turmudzi) 

Jauhi hal-hal yang dapat mengurangi dan menggugurkan nilai puasa. Inti puasa adalah melatih kita menahan diri dari hal-hal yang tidak benar. Bila hal-hal itu tidak bisa ditinggalkan, maka nilai puasa kita akan berkurang kadarnya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). 

Rasulullah SAW juga berkata, “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkanya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Selama berpuasa, senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sebab, doa orang yang berpuasa mustajab. Sabda Rasulullah saw., “Ada tiga kelompok manusia yang doanya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah doa orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi) 

2. Membaca Al-Qur’an (Tilawah) 
Al-Qur’an diturunkan perama kali di bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah SAW. Lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain. Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah. 

Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Ini bisa dijadikan program unggulan bersama keluarga. 

3. Memberikan makanan (Ith’amu ath-tha’am) 
Amal Ramadhan yang juga dianjurkan Rasulullah SAW. adalah memberikan santapan berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. “Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasa’i) Sebenarnya memberi makan untuk orang berbuka hanyalah salah satu contoh bentuk kedermawanan yang ingin ditumbuhkan kepada kita. Masih banyak bentuk sedekah yang bisa kita lakukan jika kita punya kelebihan rezeki. Peduli dan sigap menolong orang lain adalah sifat yang ingin dilatih dari orang yang berpuasa. 

4. Perhatikan kesehatan 
Berpuasa adalah ibadah mahdhah. Tapi orang yang berpuasa juga sebenarnya adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Makanya Rasulullah SAW berkata, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Tak heran jika selama berpuasa Rasulullah SAW. tetap memperhatikan kesehatan giginya dengan bersiwak, berobat dengan berbekam, dan memperhatikan penampilan, termasuk tidak berwajah cemberut. 

5. Jaga keharmonisan keluarga 
Puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah Subhanahu Wata'ala. Tapi, punya efek yang luas. Termasuk dalam mengharmoniskan hubungan keluarga. Jadi, berpuasa bukan berarti menjauh dari istri karena taqarrub kepada ALLAH sepanjang malam. Bukan juga tiada hari tanpa i’tikaf. Rasulullah SAW berpuasa, tapi juga memenuhi hak-hak keluarganya. 

Dalam prektek keseharian, hanya pada bulan Ramadhan kita bisa makan bersama secara komplit sekeluarga, baik ketika berbuka maupun sahur. Di bulan lain hal ini sulit dilakukan, keharmonisan keluarga juga bisa kita dapatkan pada saat shalat berjamaah dan tadarus bersama. 

6. Berdakwah 
Selama Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah yang luas. Karena, siapapun di bulan itu kondisi ruhiyahnya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Rasulullah saw. bersabda, barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun. 

Jika mampu, jadilah pembicara di kultum ba’da sholat zhuhur, ashar, dan subuh di musholla. Bisa juga menjadi penceramah di waktu tarawih. Jika tidak bisa berceramah, buat tulisan. Sebarkan ke rekan sesama jamaah yang kita temui. Jika tidak bisa, bisa mengambil artikel-artikel dari majalah, fotocopy, lalu sebarkan,   Insya Allah berkah. 

Ini sebenarnya hanyalah langkah awal bagi kerja yang lebih serius lagi. Dengan melakukan hal-hal sederhana seperti di atas, sesungguhnya kitaa sedang melatih diri untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Kata Rasulullah SAW, mukmin yang baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. 

7. Shalat Tawawih (Qiyamul Ramadhan) 
Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Rasulullah SAW, karena khawatir akan dianggap menjadi shalat wajib, melaksanakan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat tidak sepanjang Ramadhan. Ada yang meriwayatkan hanya tiga hari. Saat itu Rasulullah saw. melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Tapi, di saat kekhawatiran akan diwajibakannya shalat tarawih sudah tidak ada lagi, Umar bi Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR. Abdur Razzaq dan Al Baihaqi). 

Ibnu hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata, “Beberapa riwayat yang sampai kepada kita tentang jumlah rakaat shalat tarawih menyiratkan ragam shalat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu melaksanakan shalat 11 rakaat, kadang 21, dan terkadang 23 rakaat, tergantung semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka shalat 11 rakaat dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga, sedangkan mereka shalat 21 atau 23 rakaat, mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah sehingga tidak membuat mereka sulit.” Jadi, silakan  qiyamul ramadhan sesuai dengan kadar kemampuan dan antusiasme kita. 

8. I’tikaf 
Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. I’tikaf adalah berdiam diri di musholla dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. pernah i’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Namun sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit sekali yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.” 

9. Lailatul Qadar 
Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah SAW. amat menjaga-jaga untuk bida meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu kata Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan, untuk mendapatkan malam penuh berkah itu, Rasulullah SAW. mengajarkan kita sebuah doa,“Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.” Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku. 

10. Umrah 
Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya akan berlipat-lipat. Rasulullah saw. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara denagn haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim) 

11. Zakat Fitrah 
Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin. 

12. Perbanyaklah Taubat 
Selama bulan Ramadhan Allah Subhanahu Wata'ala membukakan pintu ampunan bagi hamba-hambanya dan setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api neraka. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita. 

Mari kita tingkatkan amal ibadah kita, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir kita.
 اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وركوعنا وسجودنا وتخشعنا وتصرعنا وتلاوتنا وتصدثنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين 

“Ya Allah terimalah puasa kami, qiyam kami, ruku’ kami, sujud kami, kekhusyuan kami, ibadah kami, tilawah kami, sedekah kami dan sempurnakanlah segala kekurangan kami wahai Zat yang Maha Kasih dari yang mengasihi”.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah dan inayah-Nya sehingga setelah 'kepompong' Ramadhan ini , kita kembali pada ke-fithri-an laksana bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, Amiin.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kenapa Allah masih menghidupkan kita hari ini


Di zaman modern seperti sekarang ini manusia saling sibuk dengan urusannya masing-masing. Kesibukan dalam urusan hidup ini tak jarang hingga melenakan, dan tak terasa menghilangkan ingatan pada Sang Pencipta, Allah Ta’ala. Saat melupakan Ilahi itulah sebenarnya bencana besar telah menimpa, seperti wabah virus corona.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Dunia ladang akhirat


Dinamika dan fenomena yang terjadi disekitar kita terikat oleh hukum alam. Terang-gelap, untung-rugi, bertemu-berpisah, sehat-sakit dan lainnya merupakan putaran dualisme kehidupan yang dihadapi setiap insan. Sepatutnya kita menyadari bahwa kita tidak bisa bersikap status quo dalam suatu keadaan, ingin sehat terus sehingga membenci sakit, ingin untung terus sehingga menyingkirkan rugi, ingin merangkul persahabatan terus sehingga membenci permusuhan. Kedua sisi tersebut dihadapi dengan kesadaran bahwa disitu ada pengalaman yang begitu bermakna. Sementara kemapanan tidak akan memberi warna pelajaran dan hikmah dalam kehidupan ini. Bukankah kita suka dengan pelangi yang berwarni-warni, harusnya kita juga suka dengan warna-warni peristiwa dan kenyataan yang mengecat kanvas kehidupan kita.

Namun demikian, kendati warna peristiwa yang membalut kehidupan beraneka ragam, kita tetap tertuju pada warna dasar kehidupan, yakni putih. Disinilah, makna dari ikhlas, sabar, bahkan syukur yang akan menorehkan warna terang bagi kehidupan kita. Itu artinya, dasar dari seluruh anugerah Allah adalah putih. Lekatkan mata pikiran kita untuk melihat titik putih tersebut, niscaya semua sisi yang negatif akan menyingkir dari hati kita.

Bagaikan pergelaran besar, pasti ada agenda yang mewarnai pergelaran tersebut. Dari pembukaan, hingga penutupan. Dari opening hingga closing. Andaikan opening dan closing telah diagendakan, maka muatan yang mengiringi keduanya pasti telah diagendakan dengan rapi dan teratur oleh sang perencana. Contoh pergelaran teater, kita akan menyaksikan bagaimana plot cerita yang mewarnai drama teater tersebut, mungkin kita melihat plot cerita yang diwarnai decak kebahagiaan, menari-nari penuh suka cita, bahkan disertai tertawa cekikikan. Namun, ada tahapan, kesedihan, suasana kelam, kehancuran yang tak terperihkan mewarnai pemandangan dalam teater tersebut. Begitulah cermin rangakaian agenda yang mengiringi kehidupan kita.

Kelahiran tidak kita undang, dan kematian juga tidak kita pesan, artinya bahwa diantara kelahiran dan kematian ada kehidupan, harusnya menghadapi kehidupan dengan sikap tawakkal, dan menghadapi kematian dengan berserah diri. Ya, memang hanya orang yang tidak mengerti hakikat kelahiran dan kematian yang selalu didera dan dipenjara perasaan gelisah, resah, dan keluh kesah, karena menyandarkan kehidupan pada dirinya sendiri, tidak ada spirit penyerahan diri (surrender) di medan kesadarannya. Berbeda halnya, ketika orang telah memahami dan meresapi makna kelahiran dan kematian, maka ia selalu tersuluhi cahaya terang, bahwa di antara batas kelahiran dan kematian Allah telah menetapkan bagi kita masing-masing, kapan kita berada di momen kejayaan dan kapan terkapar dalam keruntuhan.

Kejayaan dan keruntuhan itu adalah suatu keadaan yang bersifat eksternal, dimana keduanya bisa menyeret kita dalam kubang penderitaan atau bisa juga menggiring kita menuju istana kebahagiaan. Apa yang membuat kita tertelungkup dalam penjara derita dan bersuka cita dalam kursi bahagia (the happiness chair) ? Tiada lain sikap kita sendiri.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman dalam Al Qur'an surah Al-Hadid:22 : “tiada bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lawhil Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi ALLAH.”

Ayat diatas maknanya bahwa setiap kejadian dan peristiwa yang mewarnai hari-hari kita telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wataála, kita tidak bisa mengelak ketika kejadian itu sudah hendak berkunjung, dan tidak bisa mendesak kala kejadian itu belum saatnya hadir. Semua merupakan taqdir Allah Subhanahu Wataála. “…..Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir), dan supaya sebagian kami jadikan gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran:140)

“Bila kita berada di hari Kamis, kita tidak bisa melompat ke hari Sabtu, pun tidak bisa meloncat ke hari Ahad, padahal peristiwa dan kejadian menempel pada hari-hari itu, kalau kita tidak bisa mengelak dan menarik hari, pun tidak boleh mengelak dan menghindar dari kejadian peristiwa yang hadir, kita hanya perlu mempersiapkan dengan sabar, bukan keluhan, karena mengeluh bukan sikap orang beriman, muslim saja tidak. Orang muslim itu bersikap sabar, mukmin bersikap ridha, orang muhsin bersikap syukur. Serendah-rendah sikap orang muslim adalah sabar, dan orang yang
mengeluh ciri karakter orang kafir.

Jadi, kita perlu mempersiapkan senjata batin untuk menghadapi kejadian dan peristiwa yang hadir tanpa diundang, sehingga semua kejadian itu bisa di daur ulang menjadi kenyataan positif dalam batin, dan meningkatkan derajat kita di sisi Allah Subhanahu Wataála. Kita dikunjungi musibah, maka respons dengan sikap sabar, ridha, bahkan tidak kehilangan rasa syukur. Ketika diapit kejayaan, pancarkan sikap sabar tanpa batas. Sikap tersebut terbungkus sebagai ibadah batin, ibadah batin inilah yang bisa melejitkan potensi ruhani manusia, dan mengantarkannya untuk menggapai maqom yang tak bisa dilalui dengan ibadah-ibadah lahir.

Mari kita merangkai dan memantulkan kedamaian itu pada sesama, dengan menebarkan kesadaran bahwa kehidupan ini adalah tugas untuk mengikuti skenario Allah Subhanahu Wataála. Andaikan ada orang terus tersungkur dalam penderitaan, berarti ada kezaliman yang dilakukan pada dirinya sendiri, karena Allah tidak pernah berlaku dzalim pada hambaNya. Ingat bahwa kelak kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di dunia. Bila kehidupan kita tidak sesuai dengan aturan-NYA maka kita akan menyesal di akhirat nanti.

Demikianlah sebuah renungan yang mesti kita petik pelajarannya, kita hujamkan ke dalam jiwa, membekas dalam hati dan pikiran, seraya siap memancangkan tekad untuk membuat suatu perubahan dalam hidup kita ke depan. Wallahu alam bishawab
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Zikir dimanapun berada


Berdzikir kepada Allah Subhanahuwata'ala adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berdzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari pelbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Dan dzikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.


Ingat kepada Allah seperti apa sebenernya yang harus kita lakukan...? Itu pertanyaan pertama kali saya ketika saya mendengarkan nasihat tentang keutamaan Mengingat Allah, namun pertanyaan itu memang tidak saya lontarkan, karena saya simpan dalam hati…Mengapa ? karena bagi saya pribadi, Mengingat Allah tentunya harus dlakukan setiap saat, kapanpun dan dimanapun…Dalam shalat 5 waktu ? tentu saja, tapi kadang Hati saya merasakan bahwa tidak cukup dalam 5 waktu saja kita mengingatNya, tidak hanya pada saat kita membaca Al Qur’an, atau pada saat kita berkumpul dalam sebuah majelis pengajian, juga dalam ibadah-ibadah ritual lainnya, baik yang wajib ataupun sunnah.

Tidak mengherankan bila orang-orang yang selalu mengingat Allah senantiasa bahagia dan tentram hidupnya. Shalat 5 waktu yang kita kerjakan sesungguhnya tidak lebih lama dari aktifitas pekerjaan saya sehari-hari, bahkan jika dibuat “statistiknya”, porsi aktifitas duniawi pastinya akan lebih banyak . Jadi…yang harus mampu dilakukan, adalah mengingat Allah (Dzikrullah) sebanyak mungkin yang mampu kita lakukan, bertasbih kepadaNya sebanyak mungkin, bukankah Malaikat juga bertasbih kepadaNya (QS Al Baqarah : 30), Langit, bumi beserta isinya pun Bertasbih kepadaNya (QS Al Isra : 44).

Mengingat Allah sebenarnya dapat kita rasakan dan kita tanamkan selamanya seumur hidup melalui Akal dan Pikiran , serta pada Hati, Perasaan dan Jiwa/Rohani. Namun, Mengingat Allah dengan Akal dan Pikiran saja tidak akan tertanam dalam Hati, Perasaan dan Jiwa. Hanya akan bertahan beberapa saat saja, dan kemudian dengan mudah akan lupa dengan begitu saja. Karena, kita harus mampu menghadirkan Allah dalam setiap aktifitas kita, hingga kita betul-betul merasakan kecintaan yang sangat kepadaNya.

Janganlah kita sampai melupakan kegiatan Mengingat Allah, bahkan sampai melupakan-Nya, hanya karena kehidupan Dunia, Harta, Anak-Isteri serta kesibukan-kesibukan didalam ber-ikhtiar, ber-usaha maupun pekerjaan kita. Wahai hati, apa kabarmu..? Hari yang kau cintai ini, sedari subuh sudah merona tiada henti. Namun, mengapa hati masih saja bersedih? Wahai hati, kemanakah dirimu berlari? Sudahkah letih?....oh...ternyata memang cukup letih...apa tak ada tempat berbagi?...oh...ternyata lebih dari semua ini... 

Wahai hati, mungkin langkah ini telah jauh meninggalkan kata dirimu. Melepas dan enggan mendengarkan. Maka masihkah ada jalan agar hati kembali bercahaya? Wahai hati, mungkin kau sedang tak tenang hati. Menjadikan jiwa tak serindang dzikir suci. Padahal kau tahu bukan hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang? (Qs. Ar-Rad :28)

Wahai hati, semoga dengan mengingat-Nya kembali dan dengan syahadat, iman dapat selalu terbaharui. Ibnul Qayyim pernah berkata melalui tulisannya : ...di dalam hati juga terdapat kegelisahan yang tak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah...

Wahai Hati, sesungguhnya setiap diri tahu, bahwa dalam raganya tersimpan banyak kebaikan. Tapi selama tidak menggerakkan potensi yang ada, sungguh kami juga tahu kalau semuanya tak kan berubah menjadi baik. Pesan Rasulullah Saw., “Bergaullah dengan orang yang apabila engkau memandangnya, dia akan mengingatkanmu kepada Allah, sedangkan perkataannya dapat menambah ilmumu, dan perbuatannya akan membantumu cenderung beramal untuk akhirat.” (Hadits) “Bukanlah seorang muslim, dia yang tidak melaksanakan kesopanan, dan tidak menahan diri dari perbuatan yang memalukan,” (Hadits) 

“Berbahagialah mereka yang sibuk memperbaiki diri sendiri, daripada sibuk memperhatikan aib orang lain.” (Hadits) “Barangsiapa mengingat Allah, kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi, niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak.” (HR. Al-Hakim) “Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak saat berbuka,” (HR. Ibnu Majah) Semoga hati-hati yang berdoa selalu diterangi oleh kasih-Nya. 

Allah Subhanahuwata'ala tidak menghakimi seseorang karena kebagusan fisiknya, maka sekuat tenaga aku menirunya. Allah tidak mendekati seseorang karena pintar berbicara melainkan karena tulusnya hati, maka sekuat tenaga aku menirunya. Allah tidak pernah menolak untuk memaafkan hamba-Nya yang meminta maaf, maka sekuat tenaga aku menirunya. Allah tidak pernah menolak cinta orang-orang yang mencintai-Nya, maka sekuat tenaga aku menirunya.

Mari hadirkan Allah dan rasul-Nya dalam setiap desah nafas, tutur kata, dan amal perbuatan kita. Dengan cara seperti inilah iman kita insya Allah akan berbuah ihsan, karena orang yang ihsan akan senantiasa berdzikir beramal shaleh meskipun kita berada sendirian di ujung dunia manapun. 
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS