Selamat Tahun Baru 2021


Waktu yang sudah berlalu memang sulit direlakan lepas begitu saja. Mungkin karena masa lalu menyimpan banyak kenangan. Kalau kita anggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian.”
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bahagia itu sederhana


Bahagia itu bukan karena segala sesuatu baik, tetapi karena kita mampu melihat hal baik dari segala sesuatu. Bahagia itu sederhana yaitu jangan bandingkan yang telah datang dan yang sudah pergi, dan jangan bandingkan hidup kita dengan orang lain.

Melalui pesan yang dikirimkannya, seorang sahabat berkata bahwa bahagia itu sederhana. Lalu dia pun menjelaskan apa yang dimaksudnya melalui untaian kalimat sederhana dan mudah dipahami maknanya. Apa saja katanya?

Berikut pesan sahabat itu selengkapnya :
  1. Mendengar istri cerewet di rumah, berarti aku masih punya istri.
  2. Mendengar suami masih mendengkur di sebelahku berarti aku masih punya suami.
  3. Merasa letih dan jemu menasihati anak yang nakal, berarti aku masih punya anak yang mewarnai hidupku.
  4. Merasa letih setiap malam selepas bekerja, itu berarti aku masih mampu bekerja keras.
  5. Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu di rumah, itu berarti aku punya teman.
  6. Pakaianku terasa agak sempit, itu berarti aku makan cukup.
  7. Mencuci dan menyetrika timbunan baju, itu berarti aku memiliki pakaian.
  8. Membersihkan halaman rumah, mengepel lantai, itu berarti aku memiliki tempat tinggal.
  9. Mendapatkan banyak tugas pekerjaan itu berarti aku dipercayai dapat melakukannya.
  10. Mendengar bunyi klakson itu berarti aku masih bisa mendengar. 
  11. Mendengar rintik air hujan di pagi hari ini, itu berarti aku masih hidup.

Akhirnya banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Berhenti mengeluh dan bersyukurlah, bersyukur dalam setiap keadaan meski tak ada alasan untuk bersyukur sekalipun. Mari kita sama-sama mencoba untuk bersyukur walau keadaan tak seperti apa yang kita harapkan, selalu ada hikmah di balik semua itu. Janganlah menunggu bahagia baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka engkau akan bahagia.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pelanggan Bukanlah Raja


Banyak perdebatan mengenai hal ini. Tidak sedikit yang setuju, namun banyak pula yang tidak setuju. Bagi sebagian orang, interaksi dengan pelanggan sejatinya bukan hubungan vertikal antara raja dan pelayannya, tapi hendaknya interaksi yang terjadi bersifat horizontal, egaliter, setara antara kedua posisinya.

Pendapat lain yang mengatakan, pelanggan bukanlah raja, adalah seorang teman lama yang harus kita perlakukan layaknya sejawat yang minta pendapat. Berteman dengan pelanggan bukanlah sebuah ketabuan yang harus dihindari. Tapi, berteman dengan pelanggan adalah sebuah upaya untuk menjalin hubungan yang lebih sinambung, jauh bermakna dari sekadar registrasi semata.

Menjadi teman untuk para pelanggan membawa dampak positif dengan segala konsekuensinya. Tidak hanya memperbanyak downline, tapi hubungan yang baik layaknya teman sejawat bisa membuat loyalitas pelanggan meningkat. Namun, di balik itu semua, memberlakukan pelanggan sebagai teman juga menuntut seorang penjual untuk lebih responsif, aktif, dan mampu memahami kebutuhan serta keinginan para pelanggannya dengan lebih baik.

Berteman dengan pelanggan bukanlah sebuah pembenaran untuk menempatkan pelanggan pada posisi yang tidak nyaman, atau bahkan merasa tidak diperhatikan selayaknya hak yang harus ia dapatkan. Menempatkan pelanggan sebagai teman justru memberi kesempatan bagi kita untuk memberi perhatian lebih, memberlakukan engagement yang erat, hingga memahami pelanggan jauh melebihi apa yang mereka harapkan. Bukankah kebahagian itu terjadi jika kenyataan melebihi harapan? inilah esensi berteman dengan pelanggan, dan menjadikan partner kerja sebagai raja melebihi orang yang kita hormati.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Waktu Tidak Akan Pernah Kembali

Uang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang. Ungkapan ini sering membuat banyak orang galau akan kehidupannya, entah itu pria, wanita, tua, muda, kaya, atau miskin. Sebagian besar dari mereka dan juga kita, lebih fokus pada hal yang materil.

Bekerja keras itu baik, bekerja tanpa kenal lelah itu baik, bekerja untuk mendapat uang demi masa depan yang lebih cerah itu baik. Tapi ingatlah bahwa semua itu ada waktunya. Ada waktu untuk istirahat yang cukup, ada waktu untuk santai sejenak bertemu dan mengobrol dengan keluarga atau teman. Ada waktu untuk mencintai diri sendiri, dan juga orang lain. 

Apa gunanya bila bekerja terus menerus sampai tua dan akhirnya di masa tua sakit-sakitan, yang akhirnya membuat sebagian besar harta terkuras untuk biaya pengobatan. Pengorbanan di masa muda yang sia-sia. 

Menunda pekerjaan selama sekian menit untuk menelepon orang tua, kakek, nenek, saudara, teman, atau pasangan yang tercinta bukanlah hal yang buruk. Karena mungkin saja itu adalah waktu yang terakhir untuk bisa bercengkrama. Seperti ungkapan, kita bisa saja menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa ditunda. Menunda sekian menit sebelum melakukan suatu aktivitas, untuk berdoa, bukanlah hal yang dilarang tapi malah dianjurkan oleh semua kepercayaan. Dan Tuhan pasti akan menyukainya, karena Dia suka bercengkrama dengan ciptaan-NYA. Hidup kita yang singkat ini akan lebih indah bila kita bisa mengisi waktu-waktu yang ada dengan bijaksana. 

Waktu akan membentuk manusia menjadi seorang yang baik, atau buruk, tergantung pilihan yang diambil. Belajarlah dengan baik selagi masih muda, beranilah mencoba selagi masih ada kesempatan. Hormatilah orang tua selagi mereka masih ada, ingatlah mereka kalau sudah tiada. Bercanda rialah dengan teman selagi masih bisa bertemu, bangunlah pertemanan yang sejati. Cintailah pasanganmu dengan tulus, karena cinta adalah salah satu anugrah Tuhan yang indah. Berdoalah dengan sungguh-sungguh kepada Sang Pencipta, sebelum nanti waktu-NYA yang tiba.

Masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ingat dan belajarlah dari kesalahan di masa lalu, supaya lebih bijak melangkah ke depan. Rasakan, nikmati, dan jalani dengan penuh, hidup di saat ini, supaya terasa maknanya. Berdoa, optimis, dan tersenyumlah menatap masa depan, karena selalu ada keajaiban untuk waktu yang belum terlewati itu. 

Tidak ada yang bisa membeli kenangan indah di masa lalu, begitu juga tidak ada yang bisa merubah kenangan buruk di masa lalu. Terimalah. Kehidupan manusia seperti alunan nada-nada dalam sebuah musik klasik, memiliki tempo, dan tinggi rendah nada yang berbeda-beda. Tidak ada yang benar-benar sama, masing-masing unik. Seringkali perlu mendengar dengan hati, untuk dapat menikmatinya. Seperti hidup ini, terkadang jawaban dari suatu pertanyaan bukanlah dari akal atau kepandaian, tapi dari dalam hati. 

Apapun keadaan kita sekarang, ingatlah bahwa kehidupan itu selalu layak untuk dijalani. Selalu ada kesempatan baik bagi kita, selama kita sudah menyiapkan diri dengan baik. Kesempatan dalam berbagai hal, entah itu dalam pekerjaan atau dalam pilihan pasangan hidup. 

Layaknya sebuah kompetisi, pemenang biasanya adalah seseorang yang sudah melatih dirinya berbagai hal, dan siap akan segala sesuatu…namun memang terkadang bisa saja pemenangnya adalah seseorang yang sedang beruntung. Begitulah kehidupan, selalu ada hal yang tidak dapat diperkirakan dengan pasti. 

Mata uang yang termahal di dunia ini adalah waktu. Saat kita kehilangan uang, kita bisa mendapatkannya kembali, tapi tidak saat kita kehilangan waktu. Kematian bukanlah sebuah kehilangan yang terbesar dalam hidup ini, kehilangan yang terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita “mati” selagi kita masih hidup.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS