Kenapa Allah masih menghidupkan kita hari ini


Di zaman modern seperti sekarang ini manusia saling sibuk dengan urusannya masing-masing. Kesibukan dalam urusan hidup ini tak jarang hingga melenakan, dan tak terasa menghilangkan ingatan pada Sang Pencipta, Allah Ta’ala. Saat melupakan Ilahi itulah sebenarnya bencana besar telah menimpa, seperti wabah virus corona.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Dunia ladang akhirat


Dinamika dan fenomena yang terjadi disekitar kita terikat oleh hukum alam. Terang-gelap, untung-rugi, bertemu-berpisah, sehat-sakit dan lainnya merupakan putaran dualisme kehidupan yang dihadapi setiap insan. Sepatutnya kita menyadari bahwa kita tidak bisa bersikap status quo dalam suatu keadaan, ingin sehat terus sehingga membenci sakit, ingin untung terus sehingga menyingkirkan rugi, ingin merangkul persahabatan terus sehingga membenci permusuhan. Kedua sisi tersebut dihadapi dengan kesadaran bahwa disitu ada pengalaman yang begitu bermakna. Sementara kemapanan tidak akan memberi warna pelajaran dan hikmah dalam kehidupan ini. Bukankah kita suka dengan pelangi yang berwarni-warni, harusnya kita juga suka dengan warna-warni peristiwa dan kenyataan yang mengecat kanvas kehidupan kita.

Namun demikian, kendati warna peristiwa yang membalut kehidupan beraneka ragam, kita tetap tertuju pada warna dasar kehidupan, yakni putih. Disinilah, makna dari ikhlas, sabar, bahkan syukur yang akan menorehkan warna terang bagi kehidupan kita. Itu artinya, dasar dari seluruh anugerah Allah adalah putih. Lekatkan mata pikiran kita untuk melihat titik putih tersebut, niscaya semua sisi yang negatif akan menyingkir dari hati kita.

Bagaikan pergelaran besar, pasti ada agenda yang mewarnai pergelaran tersebut. Dari pembukaan, hingga penutupan. Dari opening hingga closing. Andaikan opening dan closing telah diagendakan, maka muatan yang mengiringi keduanya pasti telah diagendakan dengan rapi dan teratur oleh sang perencana. Contoh pergelaran teater, kita akan menyaksikan bagaimana plot cerita yang mewarnai drama teater tersebut, mungkin kita melihat plot cerita yang diwarnai decak kebahagiaan, menari-nari penuh suka cita, bahkan disertai tertawa cekikikan. Namun, ada tahapan, kesedihan, suasana kelam, kehancuran yang tak terperihkan mewarnai pemandangan dalam teater tersebut. Begitulah cermin rangakaian agenda yang mengiringi kehidupan kita.

Kelahiran tidak kita undang, dan kematian juga tidak kita pesan, artinya bahwa diantara kelahiran dan kematian ada kehidupan, harusnya menghadapi kehidupan dengan sikap tawakkal, dan menghadapi kematian dengan berserah diri. Ya, memang hanya orang yang tidak mengerti hakikat kelahiran dan kematian yang selalu didera dan dipenjara perasaan gelisah, resah, dan keluh kesah, karena menyandarkan kehidupan pada dirinya sendiri, tidak ada spirit penyerahan diri (surrender) di medan kesadarannya. Berbeda halnya, ketika orang telah memahami dan meresapi makna kelahiran dan kematian, maka ia selalu tersuluhi cahaya terang, bahwa di antara batas kelahiran dan kematian Allah telah menetapkan bagi kita masing-masing, kapan kita berada di momen kejayaan dan kapan terkapar dalam keruntuhan.

Kejayaan dan keruntuhan itu adalah suatu keadaan yang bersifat eksternal, dimana keduanya bisa menyeret kita dalam kubang penderitaan atau bisa juga menggiring kita menuju istana kebahagiaan. Apa yang membuat kita tertelungkup dalam penjara derita dan bersuka cita dalam kursi bahagia (the happiness chair) ? Tiada lain sikap kita sendiri.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman dalam Al Qur'an surah Al-Hadid:22 : “tiada bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lawhil Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi ALLAH.”

Ayat diatas maknanya bahwa setiap kejadian dan peristiwa yang mewarnai hari-hari kita telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wataála, kita tidak bisa mengelak ketika kejadian itu sudah hendak berkunjung, dan tidak bisa mendesak kala kejadian itu belum saatnya hadir. Semua merupakan taqdir Allah Subhanahu Wataála. “…..Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir), dan supaya sebagian kami jadikan gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran:140)

“Bila kita berada di hari Kamis, kita tidak bisa melompat ke hari Sabtu, pun tidak bisa meloncat ke hari Ahad, padahal peristiwa dan kejadian menempel pada hari-hari itu, kalau kita tidak bisa mengelak dan menarik hari, pun tidak boleh mengelak dan menghindar dari kejadian peristiwa yang hadir, kita hanya perlu mempersiapkan dengan sabar, bukan keluhan, karena mengeluh bukan sikap orang beriman, muslim saja tidak. Orang muslim itu bersikap sabar, mukmin bersikap ridha, orang muhsin bersikap syukur. Serendah-rendah sikap orang muslim adalah sabar, dan orang yang
mengeluh ciri karakter orang kafir.

Jadi, kita perlu mempersiapkan senjata batin untuk menghadapi kejadian dan peristiwa yang hadir tanpa diundang, sehingga semua kejadian itu bisa di daur ulang menjadi kenyataan positif dalam batin, dan meningkatkan derajat kita di sisi Allah Subhanahu Wataála. Kita dikunjungi musibah, maka respons dengan sikap sabar, ridha, bahkan tidak kehilangan rasa syukur. Ketika diapit kejayaan, pancarkan sikap sabar tanpa batas. Sikap tersebut terbungkus sebagai ibadah batin, ibadah batin inilah yang bisa melejitkan potensi ruhani manusia, dan mengantarkannya untuk menggapai maqom yang tak bisa dilalui dengan ibadah-ibadah lahir.

Mari kita merangkai dan memantulkan kedamaian itu pada sesama, dengan menebarkan kesadaran bahwa kehidupan ini adalah tugas untuk mengikuti skenario Allah Subhanahu Wataála. Andaikan ada orang terus tersungkur dalam penderitaan, berarti ada kezaliman yang dilakukan pada dirinya sendiri, karena Allah tidak pernah berlaku dzalim pada hambaNya. Ingat bahwa kelak kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di dunia. Bila kehidupan kita tidak sesuai dengan aturan-NYA maka kita akan menyesal di akhirat nanti.

Demikianlah sebuah renungan yang mesti kita petik pelajarannya, kita hujamkan ke dalam jiwa, membekas dalam hati dan pikiran, seraya siap memancangkan tekad untuk membuat suatu perubahan dalam hidup kita ke depan. Wallahu alam bishawab
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Zikir dimanapun berada


Berdzikir kepada Allah Subhanahuwata'ala adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berdzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari pelbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Dan dzikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.


Ingat kepada Allah seperti apa sebenernya yang harus kita lakukan...? Itu pertanyaan pertama kali saya ketika saya mendengarkan nasihat tentang keutamaan Mengingat Allah, namun pertanyaan itu memang tidak saya lontarkan, karena saya simpan dalam hati…Mengapa ? karena bagi saya pribadi, Mengingat Allah tentunya harus dlakukan setiap saat, kapanpun dan dimanapun…Dalam shalat 5 waktu ? tentu saja, tapi kadang Hati saya merasakan bahwa tidak cukup dalam 5 waktu saja kita mengingatNya, tidak hanya pada saat kita membaca Al Qur’an, atau pada saat kita berkumpul dalam sebuah majelis pengajian, juga dalam ibadah-ibadah ritual lainnya, baik yang wajib ataupun sunnah.

Tidak mengherankan bila orang-orang yang selalu mengingat Allah senantiasa bahagia dan tentram hidupnya. Shalat 5 waktu yang kita kerjakan sesungguhnya tidak lebih lama dari aktifitas pekerjaan saya sehari-hari, bahkan jika dibuat “statistiknya”, porsi aktifitas duniawi pastinya akan lebih banyak . Jadi…yang harus mampu dilakukan, adalah mengingat Allah (Dzikrullah) sebanyak mungkin yang mampu kita lakukan, bertasbih kepadaNya sebanyak mungkin, bukankah Malaikat juga bertasbih kepadaNya (QS Al Baqarah : 30), Langit, bumi beserta isinya pun Bertasbih kepadaNya (QS Al Isra : 44).

Mengingat Allah sebenarnya dapat kita rasakan dan kita tanamkan selamanya seumur hidup melalui Akal dan Pikiran , serta pada Hati, Perasaan dan Jiwa/Rohani. Namun, Mengingat Allah dengan Akal dan Pikiran saja tidak akan tertanam dalam Hati, Perasaan dan Jiwa. Hanya akan bertahan beberapa saat saja, dan kemudian dengan mudah akan lupa dengan begitu saja. Karena, kita harus mampu menghadirkan Allah dalam setiap aktifitas kita, hingga kita betul-betul merasakan kecintaan yang sangat kepadaNya.

Janganlah kita sampai melupakan kegiatan Mengingat Allah, bahkan sampai melupakan-Nya, hanya karena kehidupan Dunia, Harta, Anak-Isteri serta kesibukan-kesibukan didalam ber-ikhtiar, ber-usaha maupun pekerjaan kita. Wahai hati, apa kabarmu..? Hari yang kau cintai ini, sedari subuh sudah merona tiada henti. Namun, mengapa hati masih saja bersedih? Wahai hati, kemanakah dirimu berlari? Sudahkah letih?....oh...ternyata memang cukup letih...apa tak ada tempat berbagi?...oh...ternyata lebih dari semua ini... 

Wahai hati, mungkin langkah ini telah jauh meninggalkan kata dirimu. Melepas dan enggan mendengarkan. Maka masihkah ada jalan agar hati kembali bercahaya? Wahai hati, mungkin kau sedang tak tenang hati. Menjadikan jiwa tak serindang dzikir suci. Padahal kau tahu bukan hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang? (Qs. Ar-Rad :28)

Wahai hati, semoga dengan mengingat-Nya kembali dan dengan syahadat, iman dapat selalu terbaharui. Ibnul Qayyim pernah berkata melalui tulisannya : ...di dalam hati juga terdapat kegelisahan yang tak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah...

Wahai Hati, sesungguhnya setiap diri tahu, bahwa dalam raganya tersimpan banyak kebaikan. Tapi selama tidak menggerakkan potensi yang ada, sungguh kami juga tahu kalau semuanya tak kan berubah menjadi baik. Pesan Rasulullah Saw., “Bergaullah dengan orang yang apabila engkau memandangnya, dia akan mengingatkanmu kepada Allah, sedangkan perkataannya dapat menambah ilmumu, dan perbuatannya akan membantumu cenderung beramal untuk akhirat.” (Hadits) “Bukanlah seorang muslim, dia yang tidak melaksanakan kesopanan, dan tidak menahan diri dari perbuatan yang memalukan,” (Hadits) 

“Berbahagialah mereka yang sibuk memperbaiki diri sendiri, daripada sibuk memperhatikan aib orang lain.” (Hadits) “Barangsiapa mengingat Allah, kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi, niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak.” (HR. Al-Hakim) “Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak saat berbuka,” (HR. Ibnu Majah) Semoga hati-hati yang berdoa selalu diterangi oleh kasih-Nya. 

Allah Subhanahuwata'ala tidak menghakimi seseorang karena kebagusan fisiknya, maka sekuat tenaga aku menirunya. Allah tidak mendekati seseorang karena pintar berbicara melainkan karena tulusnya hati, maka sekuat tenaga aku menirunya. Allah tidak pernah menolak untuk memaafkan hamba-Nya yang meminta maaf, maka sekuat tenaga aku menirunya. Allah tidak pernah menolak cinta orang-orang yang mencintai-Nya, maka sekuat tenaga aku menirunya.

Mari hadirkan Allah dan rasul-Nya dalam setiap desah nafas, tutur kata, dan amal perbuatan kita. Dengan cara seperti inilah iman kita insya Allah akan berbuah ihsan, karena orang yang ihsan akan senantiasa berdzikir beramal shaleh meskipun kita berada sendirian di ujung dunia manapun. 
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Beratkan timbangan amalmu


Salah satu rangkaian hari kiamat yang sudah sama-sama kita pahami adalah apa yang disebut dengan Yaumul Hasyr atau Yaumul Mahsyar. Mahsyar adalah dataran yang sangat luas tempat berkumpul para manusia pertama, hingga manusia yang terakhir. Setiap manusia akan dibangkitkan dari kuburnya untuk menghadapi hari kiamat dan dihisab amal perbuatannya selama di dunia.

Pada satu masa nanti, yang kita kenal dengan hari berbangkit, yaitu ketika sangkakala pertama ditiup dan matinya semua mahluk, maka mereka tetap seperti itu untuk masa tertentu sebelum ba’ts atau hari berbangkit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Jarak antara dua tiupan itu 40 (empat puluh). Mereka bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah apakah 40 hari?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh bulan?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh tahun?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Kemudian Allah menurunkan air dari langit, maka mereka bermunculan seperti tumbuhnya sayuran. Dia berkata, ‘Tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘Ajbudz-dzanab, darinya makhluk itu disusun kembali pada hari kiama.” (HR.Muslim IV/2270-2271).

Ketika Ajbudz-dzanab sudah tumbuh dan jasad-jasad sudah utuh kembali seperti semula, maka ditiuplah sangkakala yang kedua. Lalu kembalilah semua ruh ke dalam jasadnya masing-masing. Allah berfirman : “Apabila ruh-ruh dipertemukan (kembali dengan tubuh).” (QS At-Takwir : 7)

Pertama kali Allah berfirman : “…sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS Al-Anbiya: 104).

Demikianlah jika Allah telah berjanji, maka pasti Dia menepatinya. Dan Allah berfirman : “Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari dalam kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang maha Pemurah dan benarlah rasul-rasulNya.” (QS Yasin : 51-52).


“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”(QS Yunus:45)

Saat tiba hari kiamat, umat manusia panik, nampak seperti orang-orang yang mabuk padahal mereka tidak mabuk. Mereka berhamburan bagai anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung hancur bagai bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian manusia mati semua.

Manusia dibangkitkan dengan berusia 33 tahun (sebagaimana dalam riwayat Muslim), dan hamba Allah yang pertama kali bangkit dan keluar dari kuburnya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim).

Kemudian manusia digiring ke padang mahsyar, mereka dihimpun di bumi yang baru berwarna putih kemerah-merahan, bagaikan tepung roti yang dibakar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ نَقِىٍّ » . قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ : لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لأَحَدٍ .

“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih kemerah-merahan seperti tepung roti yang bersih”, Sahl atau yang lainnya berkata, “Tidak ada tanda (bangunan atau gedung) milik siapa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka dihimpun dalam kondisi telanjang, belum dikhitan, dan tanpa mengenakan alas kaki. Mereka digiring menuju mahsyar berkelompok, ada yang berkendaraan, ada yang berjalan kaki dan ada yang berjalan telungkup di atas wajahnya.

Anas bin Malik berkata: “Ada seorang yang berkata, “Wahai Nabi Allah! Bagaimana orang kafir dihimpun dalam kondisi telungkup di atas wajahnya? Beliau menjawab, “Bukankah Dzat yang mampu membuatnya berjalan dengan kedua kaki di dunia mampu membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?!” (HR. Bukhari)

SUASANA DI PADANG MAHSYAR

Manusia semua berdiri di hadapan Allah selama setengah hari, yang kadarnya satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ (المطففين 6) مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلىَ أَنْ تَغْرُبَ

“Pada hari manusia bangkit menghadap Allah Rabbul ‘alamin (Al Muthaffifin: 6), selama setengah hari (dari satu hari yang kadarnya) lima puluh ribu tahun. Maka diringankan bagi orang mukmin (sehingga lamanya) seperti matahari menjelang terbenam sampai terbenam.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahut Targhib wat Tarhib no. 3589)

Di tempat itu, manusia merasakan kesengsaraan yang amat berat, bagaimana tidak? Pada saat itu, matahari didekatkan satu mil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ . فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا » .

“Matahari akan didekatkan dengan makhluk pada hari kiamat sehingga jaraknya satu mil. Ketika itu, manusia berkeringat sesuai dengan amalnya. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai ke mata kaki, ada pula yang sampai ke kedua lutut, ada yang sampai ke pinggangnya dan ada yang tenggelam oleh keringatnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya ke mulutnya. (HR. Muslim)

Di tengah suasana yang panas itu, ada sekelompok manusia yang beruntung dan berbahagia karena mendapat naungan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang ‘adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang cinta karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya, seorang yang diajak mesum oleh wanita yang berkududukan dan cantik lalu ia mengatakan “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikan sedekahnya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya dan seorang yang mengingat Allah di tempat yang sepi, lalu kedua matanya berlinangan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di padang mahsyar, Allah menghardik dan mencela orang-orang kafir di hadapan seluruh makhluk, karena tindakan mereka menyekutukan Allah dengan berhala-berhala dan mengkultuskan orang shalih serta fanatik terhadap sesembahan nenek moyang mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafa’at besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS. Al An’am: 94)

Dari ayat-ayat tersebut menjadi jelaslah bagi kita akan petunjuk Allah, bahwa pengumpulan manusia (hasyr) adalah salah satu kenyataan akhirat, yaitu Allah Yang Maha Pencipta mengumpulkan mereka menuju padang mahsyar dari tempat kebangkitan mereka masing-masing dengan cara yang berbeda-beda.

Di sanalah semua makhluk akan berdiri lama sekali menunggu putusan pengadilan Allah. Sementara keadaan mereka bermacam-macam berdasarkan amal perbuatan mereka di dunia. Maka ditampakkanlah semua amal-amal manusia dan tidak akan pernah disembunyikan oleh siapapun dan dari siapapun. Di tambah lagi dengan ketakutan dan kengerian di tempat mereka berdiri.

Maka nampaklah mereka berusaha untuk mencari seseorang yang dapat memberi syafa’at untuk mereka kepada Allah agar segera memutuskan hukuman di antara mereka. Maka mereka memohon kepada bapak mereka Adam as lalu beliau menyuruh mereka mendatangi Nabi Nuh as, dan Nuh pun menyuruh mereka pergi kepada Ibrahim as, lalu Ibrahim menyuruh mereka mendatangi Musa as, semuanya beralasan bahwa Allah pada hari itu murka, belum pernah murka seperti itu dan nampaknya tidak akan murka sesudah itu, serta mereka beralasan pula dengan kesalahan yang pernah terjadi pada diri mereka. Lalu Musa as menyuruh mereka mendatangi ‘Isa as dan beliau beralasan bahwa Allah sedang murka, tidak pernah murka seperti itu, dan tidak akan murka lagi nampaknya, kemudian beliau menyuruh mereka mendatangi Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam, maka beliaupun memberi syafa’atnya. Kemudian Allah mengijinkan pelaksanaan qadha’ (putusan hukuman) bagi segenap mahluk.

Demikian inilah sekilas tentang keadaan kita setelah dihidupkan kembali oleh Allah subhanahu wata’ala di hari berbangkit atau yaumul ba’ts. Setelah kita keluar dari kubur kita masing-masing kita akan digiring ke padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di dunia, dan di sinilah akan ditentukan nasib kita apakah ke surga atau kah ke neraka. Wallahu A’lam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS