Terkadang kita lupa

Hasil gambar untuk gif mengingat allah

Dalam hidup ini terkadang kita lupa bahwa ALLAH yang mengatur segalanya, kita masih saja sering mengeluh atas apa yang terjadi hari ini, atau atas keputusan ALLAH yang menurut kita buruk. Kita masih saja menggerutu tidak jelas, seakan-akan kita tidak pernah tahu bahwa ALLAH yang mengendalikan segalanya.


Marilah kita belajar untuk selalu menyadari bahwa apapun yang terjadi sudah ALLAH putuskan dengan kebaikan yang kita butuhkan dalam hidup ini, sekalipun hal itu sangat tidak kita sukai.

Belajarlah untuk selalu mengingat Allah Subhanahu Wa Taála dalam setiap keadaan, ntah itu dalam kondisi yang sulit atau tidak, agar seperti apapun ketetapan-Nya nanti tidak pernah membuat kita meresah, terlebih sesuatu yang memang tidak kita harapkan.

Belajarlah untuk selalu yakin dengan yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Taála, agar seperti apapun keputusan-Nya nanti, terlebih hal buruk yang memang tidak kita harapkan kedatangannya selalu dapat kita terima dengan bijaksana.

Belajarlah untuk selalu mengajarkan hati berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Taála, agar sampai kapanpun kita tidak akan pernah lemah dengan ujian yang telah Dia tetapkan, tatkala kita mampukan hati kita dengan terus berbaik sangka. Karena seperti apapun buruknya kejadian yang telah ALLAH haturkan kepada kita, tidak akan membuat kita merana, tatkala dari awal kita memang sudah tahu berhusnuddzan kepada-Nya.

Belajarlah yakin atas setiap keputusan Allah Subhanahu Wa Taála, belajarlah yakin atas rencana Allah, dan belajar yakin bahwa apapun itu telah ALLAH putuskan dengan sangat sempurna, agar kita selalu sadar bahwa seperti apapun takdir yang DIA cipta maka sudah pasti demi kebaikan kita.

Dan belajarlah bergantung kepada Allah Subhanahu Wa Taála dalam setiap keadaan, belajarlah untuk selalu ingat bahwa ALLAH yang memonitoring kehidupan kita, agar kita pun selalu ingat bahwa hidup kita telah Allah rencanakan dengan sangat baik. Maka tidak peduli entah yang ALLAH rencanakan berupa takdir baik atau buruk, maka semua itu harus selalu mempu membuat kita sadar bahwa inilah yang terbaik dari Allah Subhanahu Wa Taála.

Jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakan apa yang telah ada.
Jangan terus menyesali apa yang hilang, tapi Fokuslah pada apa yang telah kita miliki.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Janganlah berkata tanpa ilmu


Lisan merupakan salah satu anggota badan yang berpotensi menghadirkan dosa bila tidak dikontrol dengan baik, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Penting untuk menjaga lisan, sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang.

Di zaman modern, ketajaman lisan kadang juga mewujud dalam aktivitas di media sosial melalui status-status yang ditulis. Sudah semestinya, sebagai umat Islam membuat status di media sosial yang tak menyinggung orang lain. sesungguhnya ucapan lisan itu bisa menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam neraka, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu dalam hadits yang lain:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

“Tidaklah manusia tersungkur di atas wajah-wajah mereka di dalam neraka -atau di atas hidung-hidung mereka- melainkan disebabkan oleh lisan-lisan mereka.” (HR. at-Tirmidzi 2616, dinilai shahih lighairihi oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihut Targhib wat Tarhib 2866)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim). 

Diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW juga bersabda:
 عليك بطول الصمت فإنه مطردة الشيطان وعون لك علي أمردينك 
"Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu." (H.R. Ahmad). Allah memperingatkan bahwa terdapat malaikat yang mencatat setiap ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk. 

Allah Ta'ala berfirman,
 مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ 
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf [50]: 18) :

Kisah dalam hadits berikut ini bisa kita jadikan sebagai contoh tentang ucapan lisan yang sangat berbahaya bagi pelakunya, yang bisa menggelincirkannya ke dalam neraka hanya karena sebuah ucapan yang sedikit. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita:

كَانَ رَجُلاَنِ فِى بَنِى إِسْرَائِيلَ مُتَآخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِى الْعِبَادَةِ فَكَانَ لاَ يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ. فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ: أَقْصِرْ! فَقَالَ: خَلِّنِى وَرَبِّى، أَبُعِثْتَ عَلَىَّ رَقِيبًا؟ فَقَالَ: وَاللَّهِ لاَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لاَ يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ. فَقُبِضَ أَرْوَاحُهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِى عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِى يَدِى قَادِرًا؟ وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِى. وَقَالَ لِلآخَرِ: اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ. قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ.

“Dahulu ada dua orang laki-laki bersaudara dari kalangan Bani Israil, salah satunya suka berbuat dosa sedangkan yang satunya rajin beribadah. Yang rajin beribadah ini selalu melihat saudaranya berbuat dosa, hingga dia pun berkata: ‘Berhentilah berbuat dosa!’. Sampailah pada suatu hari dia mendapatinya sedang melakukan perbuatan dosa, dia pun kembali berkata: ‘Berhentilah berbuat dosa!’. Ternyata saudaranya menjawab: ‘Biarkan saja aku (ini adalah urusanku) dengan Rabbku! Apakah kamu diutus sebagai pengawas bagi diriku?' Maka (karena marah) yang rajin beribadah itu berkata kepadanya: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu' -atau dia mengatakan-, 'Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga'. Maka keduanya dicabut nyawanya oleh Allah, dan keduanya pun berkumpul di hadapan Allah Rabb semesta alam. Allah berfirman kepada yang rajin beribadah: ‘Apakah kamu tahu tentang Aku? Atau kamu punya kuasa atas apa yang ada di TanganKu?’ Dan kepada yang suka berbuat dosa itu Allah berfirman: ‘Pergi dan masuklah ke dalam surga dengan rahmat-Ku!’, sedangkan untuk yang rajin beribadah Allah berfirman (kepada para malaikat): ‘Bawalah dia masuk ke dalam neraka’.
” (HR. Abu Dawud 4901, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud 4901)

Cerita dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini menunjukkan betapa beratnya hukuman bagi siapa saja yang berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Padahal orang tadi adalah orang yang rajin beribadah, namun ia telah mendahului Allah dalam keputusan-Nya. Siapa yang bisa memastikan seseorang itu masuk surga ataupun neraka tanpa dalil yang jelas, sedangkan surga dan neraka adalah milik Allah?? Hanya Allah lah yang berhak menentukannya.

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah dalam Aqidah Thahawiyahnya mengatakan:

وَلَا نُنَزِّلُ أَحَدًا مِنْهُمْ جَنَّةً وَلَا نَارًا

“Kami tidak memastikan seorangpun dari kaum muslimin masuk surga ataupun neraka.”

Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahimahullah menjelaskan ucapan beliau di atas: “Beliau memaksudkan bahwa kita tidak mengatakan terhadap orang tertentu (individu) dari kaum muslimin bahwa dia termasuk penghuni surga atau penghuni neraka, kecuali orang yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa dia termasuk penghuni surga; seperti sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga radhiyallahu 'anhum.” (Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah hal. 374)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah berkomentar: “Kita tidak boleh memastikan seorangpun, betapapun orang itu sangat shalih dan sangat bertakwa, kita tidak mengatakannya pasti masuk surga, karena kita tidak tahu masalah ghaib. Kita juga tidak boleh memastikan seorangpun dari kaum muslimin masuk neraka, meskipun ia adalah orang-orang yang banyak berbuat dosa, kita tidak boleh menghukuminya pasti masuk neraka, karena kita tidak tahu bagaimana dia menutup amalannya dan bagaimana keadaannya ketika ia meninggal dunia. Ini (adalah hukum) bagi setiap individu kaum muslimin.” (Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah hal. 374)

Maka kisah di atas mengandung rambu-rambu dan peringatan keras bagi para da’i atau orang-orang yang berbicara masalah agama tanpa memiliki ilmu tentangnya. Berbicara tanpa ilmu bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat : 1)

Ini baru salah satu dosa lisan, masih banyak dosa-dosa lain yang disebabkan oleh lisan, semisal tuduhan palsu, persaksian palsu, mengadu domba, berdusta, menipu, mencela, mengolok-olok, dan selainnya.

Dari sinilah kita mengetahui makna ucapan Imam Bukhari tentang pentingnya berilmu sebelum berkata dan berbuat, yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di awal kitab beliau al-Ushuluts Tsalatsah. Imam Bukhari rahimahullah berkata:

بَابُ: العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ 
“Bab: Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal.”

Oleh karena itulah hendaknya kita berusaha bagaimana menjaga lisan kita agar hanya ucapan-ucapan yang baik saja yang keluar darinya, atau jika kita merasa bahwa hal ini susah dilakukan maka diamnya kita dan menahan diri dari berbicara adalah lebih baik, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari 6475 Muslim 47)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
 مَنْ لَمْ يَرَ أَنَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ، وَأَنَّ خُلُقُهُ مِنْ دِيْنِهِ، هَلَكَ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

“Barangsiapa tidak memandang bahwa ucapannya adalah bagian dari amalannya, dan bahwa akhlaknya merupakan bagian dari agamanya, maka ia akan binasa tanpa ia sadari.” (hal. 597)

Beliau juga mengatakan:

أُنْذِرُكُمْ فُضُوْلَ الكَلَامِ، بِحَسْبِ أَحَدِكُمْ مَا بَلَغَ حَاجَتَهِ

“Aku memperingatkan kalian atas banyak berbicara, hendaknya kalian itu mencukupkan berbicara sesuai keperluannya saja.” (hal. 597)

Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata:

الْمُؤْمِنُ إِذَا أَرَادَ الكَلَامَ نَظَرَ: فَإِنْ كَانَ كَلَامَهُ لَهُ تَكَلَّمَ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ عَنْهُ

“Seorang mukmin itu jika ingin berbicara, ia memeriksanya; jika ucapannya bermanfaat maka ia pun berebicara, namun bila ucapannya mengandung bahaya ia pun menahan ucapannya.” (599)

Shalih bin Abi Akhdhar berkata: Aku pernah berkata kepada Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah: “Berilah aku Wasiat.” Beliau berkata: “Sedikitkanlah bicaramu.” (hal. 602)

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dahulu sahabat-sahabat kami, kami hafal apa saja ucapannya dari Jum’at ke Jum’at berikutnya.” (hal. 602)

Al-Hasan bin Hay rahimahullah berkata: “Sungguh aku mengetahui ada seorang laki-laki yang selalu menghitung ucapannya.” Orang-orang pun mengetahui bahwa ternyata laki-laki yang diceritakannya itu adalah dia sendiri. (hal. 602) Artha`ah bin Mundzir rahimahullah berkata: “Seorang laki-laki belajar untuk diam selama empat puluh tahun dengan cara memasukkan kerikil ke dalam mulutnya, tidaklah ia melepasnya kecuali ketika makan, minum, dan tidur.” (hal. 602)

Sa’dun ar-Razi bercerita: Aku pernah bersama Hatim al-Asham rahimahullah dan ia berbicara, namun hanya sedikit ucapannya, maka dikatakanlah kepadanya: “Bukankah tadi kamu berbicara, sehingga orang-orang bisa mengambil manfaat dari ucapanmu?” Maka ia berkata:

إِنِّيْ لَا أُحِبَّ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ قَبْلَ أَنْ أَسْتَعِدَّ جَوَابَهَا لِلَّهِ، فَإِذَا قَالَ اللهُ لِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ: لِمَ قُلْتَ كَذَا؟ قُلْتُ: يَا رَبِّيْ لِكَذَا.

“Sungguh aku tidak suka untuk berkata satu kata pun sebelum aku menyiapkan jawabannya di hadapan Allah. Jika Allah bertanya kepadaku di hari Kiamat, ‘Kenapa engkau berkata seperti itu?’ Aku akan menjawab, ‘Ya Rabb-ku, karena untuk ini...’” (hal. 604) Bisyr bin Hasan bercerita: “Ada seseorang yang mendekat kepada Ibnu ‘Aun rahimahullah, maka beliau pun berkata: ‘Kalaulah ucapanku tidak ditulis (oleh malaikat), aku pasti sudah berbicara.” (hal. 603)

Itulah di antara riwayat dari para ulama kita yang beliau pilihkan dari riwayat-riwayat yang valid insyaallah. Semoga Allah merahmati mereka semuanya para ulama kita Salafush Shalih, sungguh mereka telah mencontohkan keteladanannya kepada kita semuanya.

Semoga kita bisa meneladani para ulama kita rahimahumullah. Semoga Allah menjaga lisan-lisan kita, dan memudahkan kita untuk bisa selalu berkata yang baik atau diam.

Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Memaknai bulan Ramadhan


Setiap Ramadhan tiba, selalu terurai selaksa cerita, khususnya tentang pengamalan ibadah dan kondisi ruhiyah insan-insan pecinta Ramadhan. Semua orang pasti memaknai bulan ini dengan pemahaman dan sudut pandang yang berbeda. Kemampuan memaknai Ramadhan pun sangat bergantung kepada nilai-nilai imtaq (iman & taqwa) dan indikasi keshalihan qolbu seorang hamba.

Semoga dengan merenungi makna Ramadhan tahun ini, kita mampu terus meningkatkan pengamalan ibadah. Berpuasa di bulan Ramadhan memberikan makna 3 dimensi (luas, dalam dan agung) yang manfaatnya begitu besar terhadap kualitas hidup seorang hamba. Kita bisa memaknainya melalui dimensi sosial, kesehatan, dan tentu saja secara religi. Secara sosial, bulan Ramadhan mengajarkan manusia untuk mengerti, memberi dan berbagi. Dengan mengerti penderitaan kaum dhuafa, kita bisa merasakan penderitaan mereka ketika menahan lapar, haus dan menahan nafsu untuk tidak berbuat dzalim/jahat dengan melakukan tindakan-tindakan kriminal demi memenuhi rasa lapar. Mengerti betapa rentannya kefakiran terhadap kekufuran, betapa sinambungnya kemiskinan dengan kebodohan, dan betapa beratnya mengamalkan sabar dan ikhlas dalam hidup yang serba kekurangan. Dengan pengertian itu, kita memiliki kasih sayang untuk menyantuni, memberi, dan berbagi kebahagiaan walau hanya dalam bentuk seteguk minuman di saat berbuka puasa. Dengan pengertian itu pula kita memahami kehidupan yang berbeda, tetapi bukan untuk membeda-bedakan antara si miskin dan si kaya. Ada hak-hak kaum papa di setiap harta yang kita punya, melalui kewajiban zakat, infaq dan shadaqoh kita terhadap mereka. Ketika semua itu sudah teraplikasi, maka ghirah kenikmatan berpuasa pun semakin bertambah, tumbuh dan berkembang menjadi kepedulian sosial.

Dari segi kesehatan, Ramadhan dan berpuasa di bulan Ramadhan berdampak positif terhadap kesehatan fisik, mental dan batiniah seorang hamba. Selama 1 bulan dalam setahun, organ-organ pencernaan dibersihkan dari segala toksin, racun dan unsur-unsur yang berbahaya bagi kesehatan tubuh yang terkandung dalam makanan. Sahur dan berbuka melatih tubuh kita untuk terbiasa dengan pola hidup dan pola makan yang teratur. Tak heran,banyak orang yang memiliki penyakit pencernaan, justru sembuh karena berpuasa. Secara psikis, berpuasa di bulan Ramadhan pun melatih keberdayaan Emotional Quotient kita. Berpuasa banyak godaannya, baik dari dalam diri kita maupun dari lingkungan sekitar yang bisa menurunkan kualitas bahkan membatalkan puasa kita, khususnya nafsu dan amarah. Dengan menahan haus dan dahaga, serta segala hal yang membatalkan puasa, kita berlatih untuk mengelola emosi dan amarah kita agar tetap dalam koridor sabar dan ikhlas. Manajemen emosi ini sangat berpengaruh terhadap kualitas hati dan pengamalan hidup kita, melalui jalan menuju qolbun salim. Subhanalloh, sebuah anugerah yang Maha Indah apabila kita mampu terbebas dari berbagai penyakit hati dengan berpuasa. 

Demikian pula dari sisi religi, Ramadhan memberikan banyak hikmah yang menstimulasi Spiritual Quotient seorang hamba. Berpuasa merupakan kewajiban, perintah Alloh SWT yang harus dilaksanakan oleh umat Islam (sebagaimana termaktub dalam QS Al – Baqarah, ayat 183). Ketaatan kita dalam menjalankan kewajiban merupakan nilai spiritual yang memperkuat kualitas ibadah, keimanan dan ketaqwaan hamba. Dalam kapasitas ini, Ramadhan sering dikaitkan dengan beberapa sebutan bulan yang bertujuan menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan. 

Ramadlan merupakan Syahrul Qur’an, Ramadhan mengingatkan kita akan pentingnya mengaji dan mengkaji ayat-ayat Ilahi. diturunkannya Al-Qur’an di bulan suci ini memberikan isyarat bahwa wahyu Allah SWT akan mampu dibaca, dikaji, dimaknai dan diamalkan dengan jiwa yang suci. Berkaitan dengan ini, Ramadhan juga merupakan Syahrul Jihad dan Syahrul Tarbiyah. Ramadhan dapat dijadikan momentum serta landasan konseptual untuk meluruskan pengertian jihad. Di bulan ini, semua umat muslim melakukan jihad besar yakni bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu dan amarah. Proses jihad ini sangat berkaitan dengan pengelolaan emosi yang saya sebutkan di atas. Jihad di bulan Ramadhan ini juga dapat kita maknai untuk memerangi kemiskinan melalui sedekah, serta memerangi kebodohan melalui pengamalan Ramadhan sebagai Syahrul Tarbiyah atau bulannya pendidikan. Mengkaji Al-Qur’an dan memaknai puasa merupakan pendidikan ruhiyah dan batiniyah yang luar biasa bagi hidup dan hati manusia. Berbagai ibadah Ramadhan seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, serta aktivitas Ramadhan melalui Pesantren Ramadhan merupakan tafakur dan tasyakur nikmat sebagai esensi Ramadhan demi menyongsong fitri. 

Ramadhan memiliki makna yang begitu sempurna bagi hamba yang senantiasa berkaca kepada pahitnya dosa dan manisnya taqwa. 

Semoga kita termasuk di dalamnya.  
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Jangan sampai puasamu sia-sia


Puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan hawa nafsu. Allah memberikan pahala dan ampunan kepada setiap orang yang melakukan kebaikan dibulan Ramadhan. Sayangnya, kebanyakan orang enggan melakukannya, sehingga yang diperoleh hanya lapar dan haus saja.

Ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar di perutnya dan dahaga yang menghinggapi tenggorokannya. Mengapa amalan puasa dihitung ? padahal dia telah susah payah menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Ada 2 poin yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita, selayaknya untuk kita perhatikan dengan baik.

  1. Berkata Dusta (Qaula Az-Suur).
    Rasulullah bersabda : من لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ Artinya : ““Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin dianggap jelek apabila dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu.

  2. Lagwu dan Rafats.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah, Shhih At Targib wa At Tarhib no. 1082)  Puasa itu juga mempuasakan semua anggota tubuh kita dari kemaksiatan.

Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak kita jumpai orang yang masih melakukan hal seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

Puasa itu bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut berkata, “Ketahuilah, amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zhalim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.”

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang bagus : “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Maka janganlah jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan : “Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

Kemudian, apakah dengan berkata dusta dan melakukan maksiat, puasa seseorang menjadi batal?

Ibnu Rajab rahimahullah berkata : “Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah.

Puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqadha’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al-Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan zuur (dusta) dan mengamalkannya : “Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).”

Mala ‘Ali Al–Qari dalam Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih (6/308) berkata : “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”

Kesimpulannya : Seseorang yang masih melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, memfitnah, dan bentuk maksiat lainnya, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. Marilah jadikan bulan Ramadhan ini ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang dapat menggugurkan pahala puasa kita.

Sumber dari: https://wahdah.or.id/
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS