Catatan Ramadhan

Gambar terkait

Tidak sedikit diantara kita yang kerap kali melihat sebagian jamaah Sholat Tarawih di masjid yang kemudian beranjak meninggalkan masjid ketika sang imam hendak berdiri memimpin Sholat Witir. Usut diusut ternyata sebagian mereka berniat mendirikan sholat malam lagi setelah terbangun dari tidurnya.

Pada umumnya mereka berkeinginan untuk mendapatkan keutamaan sepertiga malam terakhir, Kemudian setelah itu barulah mereka mendirikan sholat Witir sebagai penutup. Terkadang kita sendiripun demikian, karena kita menganggap bahwa sholat Witir adalah sebagai sholat penutup yang mutlak, sehingga kita menjadi bimbang tatkala ingin menambah sholat Malam di sepertiga terakhir. Lalu bagaimana sebenarnya mendudukkan permasalahan ini ? Dan bolehkah kita mendirikan sholat sunnah lagi padahal telah berjama’ah sholat Witir ?

1. Keutamaan Sholat Malam Di Bulan Ramadhan Bersama Imam Hingga Selesai 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Barangsiapa yang melaksanakan sholat malam (di bulan Ramadhan) bersama imam sampai selesai, maka dia dicatat telah menegakkan sholat satu malam penuh”. (HR. Ahmad, dishohihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam Irwaul Gholil:447)

Hadits diatas menjadi dalil disyariatkannya sholat tarawih dan witir berjamaah dibulan Ramadhan, sekalipun dilakukan di awal malam seperti yang dilakukan pada zaman Umar bin Khattab radliyallahu ‘anhu. Dikatakan oleh Abdurrahman bin Abdin al-Qori rahimahullah tentang keadaan pada zaman Umar bin Khattab radliyallahu ‘anhu :

“Adalah manusia (dizaman kholifah Umar radliyallahu ‘anhu) menegakkan (Tarawih berjamaah) di awal waktunya” (HR. Bukhori: 1906)

Begitu juga kebiasaan kaum muslimin pada zaman Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau (Imam Ahmad) ditanya: “Apakah sholat tarawih ditegakkan pada akhir malam?” Beliau menjawab: “Tidak, aku lebih menyukai kebiasaan kaum muslimin (Tarawih berjama’ah di awal malam) (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud)

Inilah yang hendaknya dilakukan oleh seorang muslim mengingat juga ganjaran yang dijanjikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu dicatat telah menegakkan sholat satu malam penuh

2. Ketika Ingin Menambah Sholat Malam Lagi Di Akhir Waktu 

Seperti yang telah diutarakan di awal, bahwa diantara kaum muslimin ada yang menunda sholat Witir berjamaah dimasjid dengan dalih akan menambah sholat malam lagi di akhir malam. Dan memang mereka melandasi perbuatan mereka ini dengan sebuah hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam :
“Jadikanlah akhir sholat kalian pada malam hari ganjil (Witir)” (Muttafaqqun ‘alaihi)
Lalu bagaimana mendudukkan hadits diatas, terlebih jika di bulan Ramadhan ini kita ingin menambah sholat malam lagi diakhir malam padahal disisi yang lain kita juga melihat begitu besarnya keutamaan sholat bersama imam sampai selesai ?
Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :
“Tidak ada dua Witir dalam satu malam” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)
Abu ‘Isa at-Tirmidzi rahimahullah memberikan komentar terhadap sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Tidak ada dua Witir dalam satu malam”. Dia berkata: “Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang mengerjakan shalat Witir di awal malam kemudian bangun lagi di akhir malam.

Cara Pertama

Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan yang setelahnya menilai Witir tersebut gugur seraya berkata: “Dia hanya perlu menambahkan pada Witir pertama satu rakaat[1] dan mengerjakan shalat sesuai yang diinginkan. Kemudian dia mengerjakan shalat Witir di akhir shalat karena: “Tidak ada Witir dalam satu malam”. Itulah yang menjadi pendapat Ishaq

Cara Kedua 

Sebagian ulama lainnya yang juga dari sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan yang lainnya berpendapat bahwa jika seseorang mengerjakan Witir di awal malam dan setelah tidur kemudian bangun lagi di akhir malam, maka dia boleh mengerjakan shalat yang dia kehendaki dan tidak perlu menggugurkan Witir yang telah dikerjakannya, serta membiarkan Witir itu seperti apa adanya. Itulah yang menjadi pendapat Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Mubarok, asy-Syafi’i, penduduk Kufah, dan Ahmad.

Pendapat inilah yang lebih shahih. Sebab, diriwayatkan dari satu jalan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat setelah mengerjakan Witir.

Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul mengatakan: ”Dapat saya katakan bahwa apa yang dikemukakan oleh Imam Tirmidzi rahimahullah: ”Inilah yang lebih shahih”.

Dalilnya adalah sebuah riwayat yang disebutkan:

”Beliau mengerjakan shalat tiga belas rakaat: beliau shalat delapan kemudian Witir. Setelah itu, mengerjakan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Jika hendak ruku’, beliau berdiri dan ruku’. Selanjutnya beliau mengerjakan shalat sua rakaat diantara adzan dan iqomah shalat Shubuh” (Hadits Shahih, Diriwayatkan oleh Syaikhani).

Berdasarkan hadist diatas, tindakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sabda beliau:

”Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari, ganjil (Witir),” merupakan petunjuk untuk melakukan yang terbaik sehingga dibolehkan bagi seorang muslim untuk mengerjakan shalat setelah shalat Witir dan tidak ada dosa baginya dalam masalah itu.

Hal tersebut diperkuat oleh apa yang diriwayatkan dari Tsauban, dia bercerita: ”Kami pernah berada dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

”Sesungguhnya perjalanan ini sangat melelahkan dan memberatkan. Oleh karena itu, barangsiapa diantara kalian telah mengerjakan shalat Witir, hendaklah ia mengerjakan dua rakaat. Jika dia terbangun (dia bisa melanjutkan shalat malamnya), dan jika tidak, keduanya sudah cukup baginya.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi, Ibnu Khuzaiman, dan Ibnu Hibban).

Itu menunjukkan bahwa maksud dari perintah menjadikan akhir shalat malam sebagai Witir dengan satu rakaat. Hal itu tidak bertentangan dengan shalat dua rakaat yang dikerjakan setelahnya, sebagaimana yang ditetapkan dari perbuatan dan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Wallahua’lam.

Faidah yang dapat dipetik dari pembahasan: 

1. Keutamaannya sholat malam berjamaah di bulan Ramadhan sampai selesai bersama imam, yaitu dicatat menegakkan sholat semalam suntuk.

2. Sholat Tarawih berjamaah di awal waktu lebih utama daripada di akhir waktu namun sendiri.

3. Diperbolehkannya menambah sholat sunnah lagi setelah sholat Witir, tanpa mendirikan sholat Witir untuk yang kedua kalinya (sebagaimana cara yang kedua di atas).

4. Hendaknya tetap sholat malam berjamaah di bulan Ramadhan bersama imam sampai selesai sholat Witir, mengingat adanya keutamaan yang besar.

Penegasan : 

Shalat tarawih bersama imam hingga imam selesai shalat witir, itu pahalanya seperti shalat malam semalam suntuk.

Setelah shalat tarawih dan witir bersama imam, jika kita ingin shalat malam lagi di akhir malam, ini dibolehkan, tapi janganlah kita shalat witir lagi.

Hendaknya dipikirkan lagi , pahala shalat tarawih bersama imam hingga selesai shalat witir pahalanya seperti shalat malam semalam suntuk, tapi seandainya kita tidak witir bersama imam, lalu kita shalat witir sendiri ketika shalat di akhir malam, maka pahalanya tidak seperti shalat witir bersama imam, gambarannya seperti kita ingin mendapatkan pahala dari satu amalan, namun pahala yang begitu besar dari amalan yang kita lakukan yang pahala itu hampir kita raih, kita buang begitu saja.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Hati-hati dengan hatimu

ag6918311

Hati itu ibarat sebuah cermin, sebuah cermin memantulkan apa yang ada dihadapannya, jika dihadapannya sebuah benda yang bagus maka ia akan memantulkan kembali kebagusan tersebut, akan tetapi jika yang dihadapan sebuah cermin adalah benda yang jelek maka pasti cermin tadi akan memantulkan sama dengan apa yang dicerminkan.

Begitupun pribadi pribadi yang baik maka akan menjadi pantulan kebaikan bagi orang orang disekitarnya, sedangkan pribadi pribadi yang buruk maka akan menjadi beban dan contoh keburukan untuk lingkungannya, lalu apa hubungannya hati ini dengan aktivitas kita ?

Setiap apa yang kita lakukan sangat berhubungan erat dengan hati, Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas, keikhlasan adalah pangkal dan akhir dari sebuah perbuatan karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, menghabiskan tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah.

Seperti Bertempur melawan musuh, kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah.

Ikhlas, terletak pada niat hati. Sungguh luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa "orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah". Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.

Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau kita mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap.
Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.

Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.

Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Saudaraku, Semoga Allah memberikan kita kebaikan dan keikhlasan dalam melakukan segala sesuatu hal, dan menjadikan kita pribadi pribadi yang selalu dapat menjaga hati dan keikhlasan dan selalu dapat memperbaiki diri dan hati ketika kita terjerumus dalam perbuatan yang mengotorinya.

"Sebagian tulisan diambil dari Ceramah Abdulah Gymnastiar"
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ramadhan hari ke 2


Apa yang terlintas dalam hati kecil Anda saat membaca ungkapan “puasa adalah untuk-Ku”?  Ada apa dengan puasa? Berikut kami uraikan mengenai fadhilah puasa dan keistimewaannya dibandingkan dengan ibadah lainnya, dan penjelasan bahwa Allah ta’ala telah mengkhususkan ibadah puasa ini untuk-Nya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).

Hadis di atas menjelaskan keutamaan dan kelebihan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Ada beberapa penjelasan ulama tentang maksud dari hadis di atas.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan tentang makna hadis ini dan mengapa puasa diberi keutamaan, diantara alasan yang paling kuat adalah bahwa ibadah puasa itu tidak terkena riya sebagaimana ibadah lainnya yang berpotensi terkena riya.

Kemudian maksud ungkapan Aku yang akan membalasnya, berikut ini penjelasan beberapa ulama terkait hadis diatas :

  1. Ibnu Al-Jauzi berkata, ‘‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan, sedikit sekali yang selamat dari godaan, yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya, berbeda dengan ibadah puasa.

  2. Al-Qurtubi berkata, Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut, kecuali Allah, maka Allah sandarkan ibadah puasa itu kepada Diri-Nya. Amalan ibadah lainnya telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa, dia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai 700 kali sampai sekehendak Allah, kecuali puasa, Allah sendiri yang akan memberi pahalanya tanpa batasan.

  3. Ibnu Abdul Bar berkata, Cukuplah ungkapan ‘puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Penyandaran di sini adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana ungkapan Baitullah (rumah Allah) meskipun semua rumah milik Allah.

  4. Az-Zain bin Munayyir berkata, Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini tidak dapat dipahami melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

  5. Ibnu Abdil Barr menjelaskan, makna ungkapan puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya adalah bahwa ibadah puasa seseorang itu tidak terlihat melalui perkataan ataupun perbuatannya karena dia merupakan amalan hati yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah. Puasa bukan sesuatu yang terlihat sehingga bisa ditulis oleh malaikat pencatat sebagaimana ibadah-ibadah lain, seperti dzikir, shalat, sedekah, dan ibadah lainnya.

Maka dapat dipahami bahwa ibadah puasa adalah merupakan amalan yang paling jauh dari segala unsur riya dan pamer, karena hanya Allah yang mengetahui puasa kita. Ini mendidik kita untuk memurnikan keikhlasan hanya untuk Allah. Wallahu a’lam bish shawab.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ramadhan hari ke 1


Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk meningkatkan amaliah dan menuai pahala melimpah. Banyak amalan yang bisa dilakukan agar meraih derajat taqwa, mendapatkan kemenangan dan mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya.


Telah sekian kali kita berjumpa dengan bulan Ramadhan, namun hingga kini nilai-nilai taqwa dalam diri kita seakan tidak pernah bertambah. Padahal Allâh Azza wa Jalla telah menegaskan dalam Al Qur'an surat Al Baqarah 183 : bahwa dengan berpuasa idealnya kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Mungkinkah ayat di atas tidak lagi relevan dengan kondisi kehidupan umat manusia di zaman ini? Tentu sebagai seorang Muslim, kita meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur`ân senantiasa relevan dengan berbagai perkembangan zaman hingga Hari Kiamat.

Mari berlomba-lomba meraih pahala di bulan Ramadhan. Kita tidak tahu apakah Ramadhan tahun depan kita masih bia merasakannya atau tidak. Maka dari itu, selagi kita mampu dan selagi kita masih diberi kesehatan dan umur oleh Allah, manfaatkanlah waktu kita di dunia ini untuk melakukan hal-hal yang baik.


Berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan selama bulan puasa ramadhan sesuai sunnah Rasulullah :

  1. Berpuasa ( Shiyam ).
    Puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
    .

  2. Membaca Al Qur'an ( Tilawah ).
    Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah saw. lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain. Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.

  3. Memberikan makanan untuk berbuka puasa (Ith’amu ath-tha’am).
    At-Thobari Rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa yang menolong seorang mukmin dalam beramal kebaikan, maka orang yang menolong tersebut akan mendapatkan pahala semisal pelaku kebaikan tadi“ Barang siapa yang memberi buka orang yang puasa maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Ahmad dalam Sanadnya, dan dishohihkan oleh At Tirmidzi) .

  4. Berdakwah.
    Selama Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah yang luas, karena, siapapun di bulan itu kondisi ruhiyahnya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Rasulullah saw bersabda, barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.

  5. Shalat Tawawih (Qiyam Ramadhan)
    Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memotivasi orang-orang untuk mengerjakan qiyam Ramadhan, walaupun beliau tidak memerintahkannya dengan tegas. Beliau bersabda: “Orang yang shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 2009, Muslim no. 759).

  6. I’tikaf di masjid.
    I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah swt. Dari Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”.

  7. Menghidupkan Lailatul Qadar.
    Di bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: Lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah saw. amat menjaga-jaga untuk bida meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” HR Bukhari dan Muslim.

  8. Melaksanakan Umrah.
    Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya akan berlipat-lipat. Rasulullah saw. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara denagn haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim).

  9. Perbanyak Taubat.
    Selama bulan Ramadhan, Allah swt telah membukakan pintu ampunan bagi hamba-hambanya dan setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api neraka. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita.

  10. Membayar Zakat Fitrah.
    Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.

Semoga Allah Subhanahu Wata'ala memberi kita petunjuk, ketaqwaan, dan memberikan kita kecukupan dan semoga Allah memperbaiki keadaan setiap orang yang membaca risalah ini.
Sumber : https://muslim.or.id 
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS