Bahagia itu Sederhana


Setiap orang punya standar kebahagiaan masing-masing. Mungkin hari ini yang membuatnya bahagia adalah ketika bisa menyelesaikan tugas lebih cepat dari biasanya. Namun di kesempatan lain, kebahagian bisa diperoleh saat mendapatkan tantangan baru yang menjanjikan prestasi lebih baik.


Jauh di seberang sana, mereka yang hidup sederhana sudah merasa bahagia luar biasa ketika mendapatkan sepiring nasi dan lauk, meski belum ada jaminan esok hari bisa mendapat makan layak.

Bahagia memang bukan hanya milik orang tertentu. Kebahagiaan ada di mana-mana karena milik semua orang. Suatu penelitian menyebutkan bahwa orang yang selalu membanding-bandingkan kekayaan/ jabatannnya dengan kerabat atau teman dekatnya, cenderung tidak bahagia dan kerap merasa kecewa.

Lantas, bagaimana menemukan kebahagiaan itu? Sebenarnya, bahagia itu sederhana. Kunci kebahagiaan terletak pada sikap kita. Dengan mensyukuri segala sesuatu yang kita miliki, dan berjuang sepenuh hati untuk tujuan yang besar & positif, maka kebahagiaan akan selalu mengalir di kehidupan kita.

Jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakan apa yang telah ada.
Jangan terus menyesali apa yang hilang, tapi Fokuslah pada apa yang telah kita miliki.
Bahagia itu ternyata sederhana.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pahala menjenguk orang sakit


Menjenguk orang sakit termasuk amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, kepada ampunan, rahmat dan Surga-Nya. Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, dan terdapat keutamaan yang agung, serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

“Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

"Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga." (HR. Al-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)

Menjenguk orang sakit jelas lebih ringan dari bersedekah susu, karena tidak membutuhkan dana atau tenaga yang besar. Kendati ringan, amalan ini dapat mengantarkan pelakunya ke dalam surga sebagaimana di sebutkan pada hadis di atas. Selain balasan surga, Allah SWT. juga telah menyediakan balasan pahala yang besar kepada seorang muslim yang menjenguk orang sakit, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Pujian dari Allah dan malaikat
    Dalam riwayat di atas menyebutkan, “Maka malaikat berseru, ‘Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik.’“ Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan, “Maka Allah Ta’ala berseru, ‘Engkau adalah orang yang baik, dan langkahmu adalah langkah yang baik.’” Tidak ada pertentangan antara kedua riwayat ini, karena Allah Ta’ala melontarkan pujian ini, dan sekaligus memerintah malaikat untuk menyerukan pujian yang sama kepada seornag muslim yang menjenguk orang sakit.

  2. Shalawat dari 7.000 malaikat
    Rasul SAW bersabda, “Tidak ada seorang Muslim yang menjenguk saudaranya sesama Muslim di pagi hari, melainkan tujuh puluh ribu Malaikat dan bersalawat untuknya hingga sore hari. Jika ia menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bersalawat untuknya hingga pagi hari, dan ia akan mendapat taman buah di surga”(HR.Tirmidzi).

  3. Dimasukkan ke dalam surga
    Seperti penggalan hadits di atas, “Maka malaikat akan berseru, ‘Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik, dan engkau telah mendapat suatu tempat di surga.”

  4. Memiliki taman buah di surga
    Seperti penggalan hadis riwayat Tirmidzi, “Dan ia akan mendapat taman buah di surga.” Nabi saw. bersabda, “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada 5: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menyambut undangan, dan mendoakan orang yang bersin” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan maka Allah mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.”(HR. al-Thabrani dan dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’. Al-Haitsami berkata tentangnya dalam Majma’ al-Zawaid: sanadnya baik)

Masih pelit untuk memberikan kebaikan kepada suadara seiman? Masih enggan memintakan ampunan atas kesalahan-kesalahan saudara seislam? Masihkah terasa berat melangkahkan kaki menjenguk suadara yang terbaring sakit? Wallahu A’lam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kembali ke fitrah awal hidup baru


Ramadhan sebentar lagi akan kita lewati dan kita memasuki suatu hari yang disebut hari kemenangan. Di mana-mana kita mendengar ucapan "Minal Aidin wal-Faizin" yang artinya “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan menjadi orang-orang menang". Kemenangan itu karena kita berhasil melakukan kebaikan selama satu bulan penuh, sehingga diharapkan setelah puasa selesai, kebaikan tersebut masih terus dipelihara.

Kita tidak perlu takut dan waswas dalam menghadapi masa depan. Kerikil tajam, bukit terjang, serta godaan hawa nafsu yang pasti akan mengiringi langkah kita. Justru setelah kita melalui hari kemenangan ini, maka kita harus berjalan lebih mantap. Karena Ramadhan adalah momentum perubahan. Artinya kita sudah berubah, entah besar atau kecil, jika kita menjalani ibadah shaum dengan baik, pasti ada perubahan positif dalam diri kita.

Hari Raya Idul Fitri adalah momen kembali ke titik nol. Momen untuk mengambil langkah-langkah baru demi keberhasilan kita dimasa mendatang. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu berpikir benar-benar dari nol. Kita susun langkah seolah tidak ada beban dipundak kita. Kini saatnya kita mengambil langkah yang seharusnya kita ambil sejak dulu. Kini kita saatnya melepaskan apa yang seharusnya kita tinggalkan sejak dulu. Semua ini karena kita memang sudah lepas dari masa lalu menuju masa depan yang lebih gemilang. Yang tersisa dari masa lalu hanyalah hikmah yang akan menjadi bekal kita menapaki jalan yang akan kita tempuh.

Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrah (kesucianya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, dan rizqi yang dimiliki telah dicuci dengan zakat, dan jika antara sesama telah saling memaafkan maka baru dapat dikatakan kembali kepada kesucian dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri, manusia yang taat pada takdir Allah سبحانه وتعالى meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan "terlahir kembali".

Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir, masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai perang Badr di akhir Ramadhan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) ini, masih ada perang yang lebih besar untuk mengekang hawa nafsu dalam menegakkan syariat islam dengan benar. Sabda Rasulullah : الدين النصيحة , Arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan, tidak hanya memberi contoh tapi mampu sebagai contoh, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf bahwa kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain. Jika hal ini terwujud maka akan tercipta ukhuwah yang kuat dalam hubungan antar manusia.

Kita memang masih boleh melanjutkan apa yang sudah kita mulai sejak lama. Tetapi bukan karena harus melanjutkan, kita melanjutkan apa yang sudah kita lakukan karena keputusan baru, atas petimbangan kita saat ini. Apakah yang kita lakukan ini harus kita lanjutkan atau tidak? Bukan…, bukan karena Anda harus melanjutkan. Andalah yang menentukan, bukan pekerjaan Anda, bukan bisnis Anda, bukan siapa pun.

Kita sudah berubah menjadi lebih baik, baik dari segi ruhiah, fikriah, maupun jasadiah melalui Ramadhan yang baru saja kita lalui. Kita juga sudah terlepas dari beban masa lalu. Kita juga sudah mendapatkan bekal berupa hikmah dari guru yang bijaksana (pengalaman kita). Maka kini saatnya kita melangkah maju ke depan untuk meraih masa depan yang gemilang.

Akhirnya kita berharap agar Idul Fitri 1440 Hijriah tahun ini, di samping dirayakan secara masif yang hanya satu kali dalam setahun, akan dapat menyadarkan kita semua agar secara bertahap memahamii hakikat Idul Fitri sehingga buah yang didapat adalah kemenangan sejati, bukan capaian spiritual yang dangkal dan tuna-makna. Semoga Allah menerima ibadah dan doa kita dan semoga kita kembali ke fithrah kesucian dan meraih kemenangan abadi dengan hidup damai di dunia dan di akhirat.
Gambar terkait
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Jangan sampai kepalamu berubah jadi kepala keledai


Sering kita melihat ada rekan kita pada saat shalat berjamaah, yang entah karena tidak tahu atau karena kelalaian, mendahului gerakan-gerakan Imam dalam shalat terutama saat bangkit dari ruku (i’tidal) dan bangkit dari sujud. Sepertinya hal ini merupakan masalah yang remeh, tetapi bagaimanakah Islam memandangnya?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

“Tidakkah salah seorang dari kalian takut apabila mengangkat kepalanya mendahului imam Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah wujudnya menjadi wujud keledai?” (HR. Bukhari)

Terkadang ada sebagian manusia, entah dengan alasan apa, mungkin karena merasa sudah sangat hapal gerakannya, bergerak sebelum imam selesai bergerak, bahkan ada yang mendahului imam. Imam belum sujud, kepalanya sudah tersungkur ke lantai. Imam belum bangkit, ia sudah sempurna duduknya. Imam belum berdiri ia sudah tegak tubuhnya.

Kita tahu imam itu panutan. Seperti halnya seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tak boleh membangkang padanya bukan? Kita pun tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu tanpa disetujui oleh pemimpin..

Begitu pula dalam shalat berjamaah. Kita tak bisa mendahului imam, sebab imamlah yang mengatur dan mengarahkan kita ketika shalat. Kita tak bisa seenaknya melakukan gerakan lebih dulu daripada imam. Kalau mau begitu sih, lebih baik shalat sendiri saja..

Perbuatan mereka itu tentu tidak ada tujuan apa pun kecuali terpengaruh godaan setan yang memperindah perbuatan tersebut agar pahala ibadah mereka berkurang. Abu Hurairah mengatakan, “Penyebab orang-orang yang mengangkat atau menundukkan kepala mereka lebih dahulu dari imam itu karena ubun-ubunnya di tangan setan.” (HR. Malik).

Rasulullah mengancam, bagi orang-orang yang ketika shalat berjamaah, bergerak mendahului geraknya imam, maka kelak Allah akan mengubah kepalanya di hari kiamat menjadi kepala keledai. Sungguh ini adalah teguran teramat keras bagi kita, bagi orang-orang yang shalat berjamaah, tetapi tidak mengikuti tuntunan syariat untuk tunduk pada perintah imam.

Kita tahu imam itu panutan, seperti halnya seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tak boleh membangkang padanya bukan? Kita pun tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu tanpa disetujui oleh pemimpin.

Mari kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan pemahaman terhadap agama dan menasihati hamba-hambanya Allah yang lain. Juga menganugerahkan kita agar mengikuti sunah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS