Pahala menjenguk orang sakit


Menjenguk orang sakit termasuk amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, kepada ampunan, rahmat dan Surga-Nya. Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, dan terdapat keutamaan yang agung, serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

“Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

"Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga." (HR. Al-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)

Menjenguk orang sakit jelas lebih ringan dari bersedekah susu, karena tidak membutuhkan dana atau tenaga yang besar. Kendati ringan, amalan ini dapat mengantarkan pelakunya ke dalam surga sebagaimana di sebutkan pada hadis di atas. Selain balasan surga, Allah SWT. juga telah menyediakan balasan pahala yang besar kepada seorang muslim yang menjenguk orang sakit, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Pujian dari Allah dan malaikat
    Dalam riwayat di atas menyebutkan, “Maka malaikat berseru, ‘Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik.’“ Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan, “Maka Allah Ta’ala berseru, ‘Engkau adalah orang yang baik, dan langkahmu adalah langkah yang baik.’” Tidak ada pertentangan antara kedua riwayat ini, karena Allah Ta’ala melontarkan pujian ini, dan sekaligus memerintah malaikat untuk menyerukan pujian yang sama kepada seornag muslim yang menjenguk orang sakit.

  2. Shalawat dari 7.000 malaikat
    Rasul SAW bersabda, “Tidak ada seorang Muslim yang menjenguk saudaranya sesama Muslim di pagi hari, melainkan tujuh puluh ribu Malaikat dan bersalawat untuknya hingga sore hari. Jika ia menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bersalawat untuknya hingga pagi hari, dan ia akan mendapat taman buah di surga”(HR.Tirmidzi).

  3. Dimasukkan ke dalam surga
    Seperti penggalan hadits di atas, “Maka malaikat akan berseru, ‘Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik, dan engkau telah mendapat suatu tempat di surga.”

  4. Memiliki taman buah di surga
    Seperti penggalan hadis riwayat Tirmidzi, “Dan ia akan mendapat taman buah di surga.” Nabi saw. bersabda, “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada 5: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menyambut undangan, dan mendoakan orang yang bersin” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan maka Allah mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.”(HR. al-Thabrani dan dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’. Al-Haitsami berkata tentangnya dalam Majma’ al-Zawaid: sanadnya baik)

Masih pelit untuk memberikan kebaikan kepada suadara seiman? Masih enggan memintakan ampunan atas kesalahan-kesalahan saudara seislam? Masihkah terasa berat melangkahkan kaki menjenguk suadara yang terbaring sakit? Wallahu A’lam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kembali ke fitrah awal hidup baru


Ramadhan sebentar lagi akan kita lewati dan kita memasuki suatu hari yang disebut hari kemenangan. Di mana-mana kita mendengar ucapan "Minal Aidin wal-Faizin" yang artinya “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan menjadi orang-orang menang". Kemenangan itu karena kita berhasil melakukan kebaikan selama satu bulan penuh, sehingga diharapkan setelah puasa selesai, kebaikan tersebut masih terus dipelihara.

Kita tidak perlu takut dan waswas dalam menghadapi masa depan. Kerikil tajam, bukit terjang, serta godaan hawa nafsu yang pasti akan mengiringi langkah kita. Justru setelah kita melalui hari kemenangan ini, maka kita harus berjalan lebih mantap. Karena Ramadhan adalah momentum perubahan. Artinya kita sudah berubah, entah besar atau kecil, jika kita menjalani ibadah shaum dengan baik, pasti ada perubahan positif dalam diri kita.

Hari Raya Idul Fitri adalah momen kembali ke titik nol. Momen untuk mengambil langkah-langkah baru demi keberhasilan kita dimasa mendatang. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu berpikir benar-benar dari nol. Kita susun langkah seolah tidak ada beban dipundak kita. Kini saatnya kita mengambil langkah yang seharusnya kita ambil sejak dulu. Kini kita saatnya melepaskan apa yang seharusnya kita tinggalkan sejak dulu. Semua ini karena kita memang sudah lepas dari masa lalu menuju masa depan yang lebih gemilang. Yang tersisa dari masa lalu hanyalah hikmah yang akan menjadi bekal kita menapaki jalan yang akan kita tempuh.

Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrah (kesucianya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, dan rizqi yang dimiliki telah dicuci dengan zakat, dan jika antara sesama telah saling memaafkan maka baru dapat dikatakan kembali kepada kesucian dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri, manusia yang taat pada takdir Allah سبحانه وتعالى meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan "terlahir kembali".

Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir, masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai perang Badr di akhir Ramadhan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) ini, masih ada perang yang lebih besar untuk mengekang hawa nafsu dalam menegakkan syariat islam dengan benar. Sabda Rasulullah : الدين النصيحة , Arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan, tidak hanya memberi contoh tapi mampu sebagai contoh, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf bahwa kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain. Jika hal ini terwujud maka akan tercipta ukhuwah yang kuat dalam hubungan antar manusia.

Kita memang masih boleh melanjutkan apa yang sudah kita mulai sejak lama. Tetapi bukan karena harus melanjutkan, kita melanjutkan apa yang sudah kita lakukan karena keputusan baru, atas petimbangan kita saat ini. Apakah yang kita lakukan ini harus kita lanjutkan atau tidak? Bukan…, bukan karena Anda harus melanjutkan. Andalah yang menentukan, bukan pekerjaan Anda, bukan bisnis Anda, bukan siapa pun.

Kita sudah berubah menjadi lebih baik, baik dari segi ruhiah, fikriah, maupun jasadiah melalui Ramadhan yang baru saja kita lalui. Kita juga sudah terlepas dari beban masa lalu. Kita juga sudah mendapatkan bekal berupa hikmah dari guru yang bijaksana (pengalaman kita). Maka kini saatnya kita melangkah maju ke depan untuk meraih masa depan yang gemilang.

Akhirnya kita berharap agar Idul Fitri 1440 Hijriah tahun ini, di samping dirayakan secara masif yang hanya satu kali dalam setahun, akan dapat menyadarkan kita semua agar secara bertahap memahamii hakikat Idul Fitri sehingga buah yang didapat adalah kemenangan sejati, bukan capaian spiritual yang dangkal dan tuna-makna. Semoga Allah menerima ibadah dan doa kita dan semoga kita kembali ke fithrah kesucian dan meraih kemenangan abadi dengan hidup damai di dunia dan di akhirat.
Gambar terkait
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Jangan sampai kepalamu berubah jadi kepala keledai


Sering kita melihat ada rekan kita pada saat shalat berjamaah, yang entah karena tidak tahu atau karena kelalaian, mendahului gerakan-gerakan Imam dalam shalat terutama saat bangkit dari ruku (i’tidal) dan bangkit dari sujud. Sepertinya hal ini merupakan masalah yang remeh, tetapi bagaimanakah Islam memandangnya?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

“Tidakkah salah seorang dari kalian takut apabila mengangkat kepalanya mendahului imam Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah wujudnya menjadi wujud keledai?” (HR. Bukhari)

Terkadang ada sebagian manusia, entah dengan alasan apa, mungkin karena merasa sudah sangat hapal gerakannya, bergerak sebelum imam selesai bergerak, bahkan ada yang mendahului imam. Imam belum sujud, kepalanya sudah tersungkur ke lantai. Imam belum bangkit, ia sudah sempurna duduknya. Imam belum berdiri ia sudah tegak tubuhnya.

Kita tahu imam itu panutan. Seperti halnya seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tak boleh membangkang padanya bukan? Kita pun tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu tanpa disetujui oleh pemimpin..

Begitu pula dalam shalat berjamaah. Kita tak bisa mendahului imam, sebab imamlah yang mengatur dan mengarahkan kita ketika shalat. Kita tak bisa seenaknya melakukan gerakan lebih dulu daripada imam. Kalau mau begitu sih, lebih baik shalat sendiri saja..

Perbuatan mereka itu tentu tidak ada tujuan apa pun kecuali terpengaruh godaan setan yang memperindah perbuatan tersebut agar pahala ibadah mereka berkurang. Abu Hurairah mengatakan, “Penyebab orang-orang yang mengangkat atau menundukkan kepala mereka lebih dahulu dari imam itu karena ubun-ubunnya di tangan setan.” (HR. Malik).

Rasulullah mengancam, bagi orang-orang yang ketika shalat berjamaah, bergerak mendahului geraknya imam, maka kelak Allah akan mengubah kepalanya di hari kiamat menjadi kepala keledai. Sungguh ini adalah teguran teramat keras bagi kita, bagi orang-orang yang shalat berjamaah, tetapi tidak mengikuti tuntunan syariat untuk tunduk pada perintah imam.

Kita tahu imam itu panutan, seperti halnya seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tak boleh membangkang padanya bukan? Kita pun tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu tanpa disetujui oleh pemimpin.

Mari kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan pemahaman terhadap agama dan menasihati hamba-hambanya Allah yang lain. Juga menganugerahkan kita agar mengikuti sunah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Allah cinta pada hamba-Nya yang bertaubat


Pada hakikatnya hidup di dunia ini hanya untuk beribadah mendapatkan ridho dan cinta dari Allah Subhanahu Wata’ala. Untuk memperoleh cinta dari Allah, seseorang itu harus melakukan berbagai cara dan banyak usaha untuk meraih perhatian-Nya. Kita akan merugi jika hidup di dunia ini hanya untuk mengundang murka Allah ‘azza wa jalla.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk bertaubat, dan perintah ini merupakan kewajiban yang harus segera dilaksanakan sebelum ajal tiba. Hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat ada dua macam: taubat mutlak dan taubat muqayyad (terikat). Taubat mutlak ialah bertaubat dari segala perbuatan dosa. Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu dosa tertentu yang pernah dilakukan.

Syarat-syarat taubat meliputi: beragama Islam, berniat ikhlas, mengakui dosa, menyesali dosa, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang dizalimi, bertaubat sebelum nyawa berada di tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat. Taubat adalah kewajiban seluruh kaum beriman, bukan kewajiban orang yang baru saja berbuat dosa

Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu… Jalan orang-orang yang bertaubat telah dihamparkan. Ia merindukan pijakan kakimu… Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu…

Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan dirimu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam maksiat, sehingga memupus taubatmu yang terdahulu, janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS. Az Zumar: 53-54)

Berbagai Keutamaan Taubat

Pada hakikatnya taubat itulah isi ajaran Islam dan fase-fase persinggahan iman. Setiap insan selalu membutuhkannya dalam menjalani setiap tahapan kehidupan. Maka orang yang benar-benar berbahagia ialah yang menjadikan taubat sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat. Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya. Beberapa di antara keutamaan taubat ialah:

  1. Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan kepada Allah.
    Allah ta’ala berfirman, إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

  2. Taubat merupakan sebab keberuntungan.
    Allah ta’ala berfirman وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

  3. Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.
    Allah ta’ala berfirman وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ “Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25) Allah ta’ala juga berfirman وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً “Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya.” (QS. Al Furqaan: 71)

  4. Taubat merupakan sebab masuk surga dan terhindar dari siksa neraka.
    Allah ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئاً “Maka sesudah mereka (nabi-nabi) datanglah suatu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka itu akan dilemparkan ke dalam kebinasaan. Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka, dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang akan masuk ke dalam surga dan mereka tidaklah dianiaya barang sedikit pun.” (QS. Maryam: 59, 60)

  5. Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat Allah.
    Allah ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ عَمِلُواْ السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُواْ مِن بَعْدِهَا وَآمَنُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa kemudian bertaubat sesudahnya dan beriman maka sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun dan Penyayang.” (QS. Al A’raaf: 153)

  6. Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan.
    Allah ta’ala berfirman, وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً “Dan barang siapa yang melakukan dosa-dosa itu niscaya dia akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka menjadi berbagai kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al Furqaan: 68-70) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang bertaubat dari suatu dosa sebagaimana orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

  7. Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan.
    Allah ta’ala berfirman, فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ “Apabila kalian bertaubat maka sesungguhnya hal itu baik bagi kalian.” (QS. At Taubah: 3) Allah ta’ala juga berfirman, فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيْراً لَّهُمْ “Maka apabila mereka bertaubat niscaya itu menjadi kebaikan bagi mereka.” (QS. At Taubah: 74)

  8. Taubat menjadi sebab untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar.
    Allah ta’ala berfirman, إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَاعْتَصَمُواْ بِاللّهِ وَأَخْلَصُواْ دِينَهُمْ لِلّهِ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْراً عَظِيماً “Kecuali orang-orang yang bertaubat, memperbaiki diri dan berpegang teguh dengan agama Allah serta mengikhlaskan agama mereka untuk Allah mereka itulah yang akan bersama dengan kaum beriman dan Allah akan memberikan kepada kaum yang beriman pahala yang amat besar.” (QS. An Nisaa’: 146)

  9. Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan.
    Allah ta’ala berfirman, وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ “Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirimkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa.” (QS. Huud: 52)

  10. Taubat menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat.
    Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala, الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ “Para malaikat yang membawa ‘Arsy dan malaikat lain di sekelilingnya senantiasa bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, mereka beriman kepada-Nya dan memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu maha luas meliputi segala sesuatu, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksa neraka.” (QS. Ghafir: 7)

  11. Taubat termasuk bentuk ketaatan kepada kehendak Allah.
    Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala, وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً “Dan Allah menghendaki untuk menerima taubat kalian.” (QS. An Nisaa’: 27). Maka orang yang bertaubat berarti dia adalah orang yang telah melakukan perkara yang disenangi Allah dan diridhai-Nya.

  12. Taubat membuat Allah bergembira dengan sebab hal itu.
    Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hamba-Nya ketika ia mau bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah tuhanmu’, dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)

Di bulan Ramadhan ini, mari kita kembali memancangkan keyakinan bahwa Allah Maha mengasihi dan menyayangi kita. Allah tidak ingin hamba-hamba-Nya celaka oleh perbuatannya sendiri. Syariat ttaubat adalah salah satu bentuk kasing sayang Allah kepada kita. Agar kita menjadi orang-orang yang beruntung, dan agar kelak saat menghadap-Nya catatan amal kita bersih dari dosa-dosa. Mari kita laksanakan sebelum pintu taubat tertutup, sebelum nyawa berada dikerongkongan, sebelum kehidupan dunia berakhir atau sebelum matahari terbit dari ufuk barat. Wallahu ‘alam bish-shawab.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS