Allah cinta pada hamba-Nya yang bertaubat


Pada hakikatnya hidup di dunia ini hanya untuk beribadah mendapatkan ridho dan cinta dari Allah Subhanahu Wata’ala. Untuk memperoleh cinta dari Allah, seseorang itu harus melakukan berbagai cara dan banyak usaha untuk meraih perhatian-Nya. Kita akan merugi jika hidup di dunia ini hanya untuk mengundang murka Allah ‘azza wa jalla.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk bertaubat, dan perintah ini merupakan kewajiban yang harus segera dilaksanakan sebelum ajal tiba. Hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat ada dua macam: taubat mutlak dan taubat muqayyad (terikat). Taubat mutlak ialah bertaubat dari segala perbuatan dosa. Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu dosa tertentu yang pernah dilakukan.

Syarat-syarat taubat meliputi: beragama Islam, berniat ikhlas, mengakui dosa, menyesali dosa, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang dizalimi, bertaubat sebelum nyawa berada di tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat. Taubat adalah kewajiban seluruh kaum beriman, bukan kewajiban orang yang baru saja berbuat dosa

Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu… Jalan orang-orang yang bertaubat telah dihamparkan. Ia merindukan pijakan kakimu… Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu…

Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan dirimu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam maksiat, sehingga memupus taubatmu yang terdahulu, janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS. Az Zumar: 53-54)

Berbagai Keutamaan Taubat

Pada hakikatnya taubat itulah isi ajaran Islam dan fase-fase persinggahan iman. Setiap insan selalu membutuhkannya dalam menjalani setiap tahapan kehidupan. Maka orang yang benar-benar berbahagia ialah yang menjadikan taubat sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat. Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya. Beberapa di antara keutamaan taubat ialah:

  1. Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan kepada Allah.
    Allah ta’ala berfirman, إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

  2. Taubat merupakan sebab keberuntungan.
    Allah ta’ala berfirman وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

  3. Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.
    Allah ta’ala berfirman وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ “Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25) Allah ta’ala juga berfirman وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً “Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya.” (QS. Al Furqaan: 71)

  4. Taubat merupakan sebab masuk surga dan terhindar dari siksa neraka.
    Allah ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئاً “Maka sesudah mereka (nabi-nabi) datanglah suatu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka itu akan dilemparkan ke dalam kebinasaan. Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka, dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang akan masuk ke dalam surga dan mereka tidaklah dianiaya barang sedikit pun.” (QS. Maryam: 59, 60)

  5. Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat Allah.
    Allah ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ عَمِلُواْ السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُواْ مِن بَعْدِهَا وَآمَنُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa kemudian bertaubat sesudahnya dan beriman maka sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun dan Penyayang.” (QS. Al A’raaf: 153)

  6. Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan.
    Allah ta’ala berfirman, وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً “Dan barang siapa yang melakukan dosa-dosa itu niscaya dia akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka menjadi berbagai kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al Furqaan: 68-70) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang bertaubat dari suatu dosa sebagaimana orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

  7. Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan.
    Allah ta’ala berfirman, فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ “Apabila kalian bertaubat maka sesungguhnya hal itu baik bagi kalian.” (QS. At Taubah: 3) Allah ta’ala juga berfirman, فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيْراً لَّهُمْ “Maka apabila mereka bertaubat niscaya itu menjadi kebaikan bagi mereka.” (QS. At Taubah: 74)

  8. Taubat menjadi sebab untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar.
    Allah ta’ala berfirman, إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَاعْتَصَمُواْ بِاللّهِ وَأَخْلَصُواْ دِينَهُمْ لِلّهِ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْراً عَظِيماً “Kecuali orang-orang yang bertaubat, memperbaiki diri dan berpegang teguh dengan agama Allah serta mengikhlaskan agama mereka untuk Allah mereka itulah yang akan bersama dengan kaum beriman dan Allah akan memberikan kepada kaum yang beriman pahala yang amat besar.” (QS. An Nisaa’: 146)

  9. Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan.
    Allah ta’ala berfirman, وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ “Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirimkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa.” (QS. Huud: 52)

  10. Taubat menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat.
    Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala, الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ “Para malaikat yang membawa ‘Arsy dan malaikat lain di sekelilingnya senantiasa bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, mereka beriman kepada-Nya dan memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu maha luas meliputi segala sesuatu, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksa neraka.” (QS. Ghafir: 7)

  11. Taubat termasuk bentuk ketaatan kepada kehendak Allah.
    Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala, وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً “Dan Allah menghendaki untuk menerima taubat kalian.” (QS. An Nisaa’: 27). Maka orang yang bertaubat berarti dia adalah orang yang telah melakukan perkara yang disenangi Allah dan diridhai-Nya.

  12. Taubat membuat Allah bergembira dengan sebab hal itu.
    Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hamba-Nya ketika ia mau bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah tuhanmu’, dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)

Di bulan Ramadhan ini, mari kita kembali memancangkan keyakinan bahwa Allah Maha mengasihi dan menyayangi kita. Allah tidak ingin hamba-hamba-Nya celaka oleh perbuatannya sendiri. Syariat ttaubat adalah salah satu bentuk kasing sayang Allah kepada kita. Agar kita menjadi orang-orang yang beruntung, dan agar kelak saat menghadap-Nya catatan amal kita bersih dari dosa-dosa. Mari kita laksanakan sebelum pintu taubat tertutup, sebelum nyawa berada dikerongkongan, sebelum kehidupan dunia berakhir atau sebelum matahari terbit dari ufuk barat. Wallahu ‘alam bish-shawab.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Keutamaan pergi menuju masjid


Di negeri kita banyak sekali dibangun masjid, sebagian besar bentuknya sangat indah dan megah. Namun sayang keindahan dan kemegahannya tidak selaras dengan kemakmurannya. Banyak masjid-masjid yang tidak ada jama’ahnya kecuali pada shalat Jum’at saja. Mungkin faktor yang paling utama adalah minimnya pengetahuan kaum Muslimin akan keutamaan mendatangi masjid dan beribadah di dalamnya.

Fadhilah / keutamaan pergi menuju masjid diantaranya adalah :

  1. Allah menyediakan hidangan surga
    Shalat merupakan perintah Allah yang harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Dan diantara mengerjakan shalat wajib lima waktu yang terbaik adalah di masjid. Keutamaan ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits, dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan untuknya suatu hidangan di syurga, setiap kali ia pergi pagi atau sore hari itu.” (Muttafaq’alaih)

  2. Setiap langkahnya diampuni dosa dan diangkat derajat
    Sungguh luar biasa bagi orang yang memenuhi panggilan Allah berupa seruan adzan dan menyegerakan untuk pergi ke masjid, setiap langkahnya Allah hapus kesalahan, dan langkah yang lainnya Allah naikkan derajatnya. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: ” Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia pergi ke salah satu dari beberapa rumah Allah -yakni masjid- untuk menyelesaikan salah satu shalat wajib dari beberapa shalat yang diwajibkan oleh Allah, maka langkah-langkahnya itu yang selangkah dapat menghapuskan satu kesalahan sedang langkah yang lainnya dapat menaikkan satu derajat.” (HR. Muslim)

  3. Setiap langkahnya menuju masjid dicatat pahala disisi Allah
    Dalam setiap langkah menuju masjid dan lengkah menuju rumahnya, dicatat berupa pahala kebaikan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dijelaskan dalan hadits dari Ubay bin Ka’ab r.a., katanya: “Ada seorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seorangpun yang rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat oleh sesuatu shalat (yakni setiap shalat fardhu ia selalu berjamaah). Kepadanya dikatakan: “Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari.” Ia menjawab: “Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Allah telah mengumpulkan untukmu pahala kesemuanya.” (HR. Muslim)

    Dalam hadits yang lain dijelaskan, dari Jabir r.a., katanya: “Ada beberapa bidang tanah di sekitar masjid itu kosong, lalu keluarga Bani Salimah berkehendak akan berpindah di dekat masjid. Hal itu sampai terdengar oleh Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda kepada mereka: “Ada berita yang sampai kepadaku bahwa engkau semua hendak berpindah di dekat masjid.” Mereka menjawab: “Benar, ya Rasulullah. Kita memang berkehendak demikian.” Beliau lalu bersabda lagi: “Hai keluarga Bani Salimah, bekas langkah-langkahmu dicatat pahalanya untukmu semua. Maka itu tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, tentu dicatatlah bekas langkah-langkahmu semua itu.” Mereka lalu berkata: “Kita tidak senang lagi untuk berpindah.” (HR. Muslim). Imam Bukhari meriwayatkannya hadits serupa di atas dari riwayat Anas.

  4. Pahala besar bagi orang yang terjauh langkahnya ke masjid
    Dari Abu Musa r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya sebesar-besar manusia perihal pahalanya dalam shalat ialah yang terjauh diantara mereka itu tentang jalannya lalu lebih jauh lagi. Dan orang yang menantikan -menunggu- shalat sehingga ia dapat mengikuti shalat itu bersama imam adalah lebih besar pahala daripada orang yang melakukan shalat itu dengan sendirian lalu ia pulang tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

  5. Berjalan ke Masjid di malam hari akan mendapat cahaya di hari kiamat
    Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan di waktu malam ke masjid-masjid bahwa mereka akan memperoleh cahaya yang sempurna besok pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

  6. Banyaknya langkah ke masjid dapat melebur kesalahan
    Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengannya dapat pula menaikkan beberapa derajat?” Para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu’ sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi -seperti terlampau dingin dan sebagainya-, banyaknya melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah melakukan shalat. Itulah yang dapat disebut ribath -perjuangan menahan nafsu untuk memperbanyak ketaatan pada Tuhan-.” (HR.Muslim)

  7. Orang yang datang ke masjid ciri orang beriman
    Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau engkau semua melihat seseorang membiasakan ke masjid, maka saksikanlah ia dengan keimanan -yakni bahwa orang itu benar-benar orang yang beriman-. Allah Azzawajalla berfirman: “Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk..”(Q.S At-Taubah: 18). (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

(Silahkan klick dibawah ini tentang permasalahan)

Ke mesjid lebih baik naik kendaraan atau jalan kaki ?
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Hukum mengkafirkan sesama muslim


Mengkafirkan orang bukan perkara kecil. Orang yang mengaku Islam itu tidak boleh dikafirkan, melainkan kalau ia terus terang ingkar kepada Al Quran dan kepada Nabi saw. Sesungguhnya perkara Takfir (menuduh kafir seorang muslim) adalah perkara yang sangat berat dan serius, hal ini dikarenakan apabila tuduhan tersebut tidak terbukti, maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada dirinya, yang artinya orang tersebut menjadi kafir tanpa dia sadari.

Di masa ini, sering kita temui peristiwa menganggap orang lain kafir dan mengkafirkan orang lain yang sesama muslim. padahal hal tersebut seharusnya dihindari untuk menjaga kerukunan dan kedamaian antar umat seagama. Banyaknya aliran islam yang satu sama lain menganggap dirinya yang terbaik ialah salah satu penyebabnya. Seseorang menjadi lemah imannya dan sangat minim pemahamannya terhadap hukuman dan ancaman mengkafirkan orang lain baik pada dunia maupun akhirat.

Kita sering membaca bahwa Allah dan RasulNya selalu menganjurkan hambaNya untuk memperbanyak kebaikan kepada orang lain dengan saling mengingatkan pada kebaikan dan saling mencegah kemungkaran. Mengkafirkan orang lain berarti melanggar perintah Allah tersebut dan mengikuti jalan syetan sebagaimana syetan senang ketika manusia memiliki hati yang gelap yang jauh dari petunjuk Allah dan merupakan slaah satu bahaya nafsu dalam islam.

Munculnya pemboman, teror, dan pembunuhan ialah hasil dari mengkafirkan orang lain. yang berawal dari pengaruh bahwa melakukan hal demikian adalah contoh nyata perjuangan umat islam, padahal sama sekali tidak ada syariatnya dalam Al Qur’an maupun hadist. Perbuatan tersebut pun mencoreng nama islam. Bagaimana pandangan islam tentang hal tersebut? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut mengenai hukum mengkafirkan orang lain.

Pengkafiran Hanya Hak Allah dan Rasulullah

Sebelum memahami tentang perbuatan mengkafirkan, kita wajib mengetahui terlebih dahulu mengenai kedudukan kaum muslimin di mata Allah. Kaum muslimin ialah kaum yang paling dilindungi dan diberkahi Allah, kaum muslimin selalu mendapat ridho dalam setiap urusannya jika melakukan segala sesuatu sesuai syariat dan aturan islam serta tidak melanggar perintahNya. keutamaan iman dalam islam akan menjauhkan seorang mukmin dari hawa nafsu yang dapat menuju kepada kafir.

Allah selalu memerintahkan hambaNya untuk tolong menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan, jika sesama muslim saling mengkafirkan atau saling berkhianat tentu tidak akan ada kerukunan dan kedamaian dalam beragama. Contohnya ialah saing tuduh menuduh dan mengkafirkan. “Pengkafiran itu adalah hak Allah dan RasulNya, oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali yang dikafirkan oleh Allah dan RasulNya”. (Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh hal 198).

Pengkafiran hanya menjadi hak Allah dan RasulNya yang mengetahui isi hati manusia, sesama manusia tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain baik yang berhubungan dengan ajakan atau menuduh. Hal tersebut akan merusak kedudukan kaum muslimin di mata Allah dan mendapat berbagai azab baik di dunia maupun di akherat dimana seharusnya sesama muslim saling menjaga akhlak agar sama sama menjauhi godaan syetan yang terkutuk sehingga akan terkena azab menghina islam.

Hukum mengkafirkan orang lain ialah jelas haramnya, tidak pernah ada perintah atau teladan Rasulullah dalam hal tersebut manusia tidak berhak memastikan hati dan amalan orang lain, sebab merupakan kuasa Allah semata. Bagaimana mungkin mengajak kepada kemungkaran sementara dia tahu bahwa hidup di dunia menurut islam hanyalah sementara? Haramnya mengkafirkan orang lain sesuai dengan berbagai hadist dan firman Allah berikut ini :

  1. Kekafiran Kembali Kepada Orang yang Melakukan
    “Siapa saja yang berkata pada saudaranya : hai kafir, maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada orang yang mengucapkannya”. (HR Bukhari).

    Penjelasan dari hadist tersebut ialah seseorang yang mengkafirkan orang lain sekalipun dengan ucapan, hal tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri. artinya orang tersebut juga dianggap kafir sebab telah berkata demikian pada sesama muslim yang seharusnya saling mencegah maksiat satu sama lain..

    Contoh yang demikian tidak wajib dihindari, tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain walaupun hanya dengan kata kata yang tidak sengaja seperti ucapan yang bercanda. Hal demikian termasuk haram. Agama islam bukan sebagai bahan untuk bercanda, sebab akhlak dan syariat islam adalah bagian yang terdalam dari hati manusia dan menjadi panduan dalam kehidupan sehari hari. menjadikannya sebagai bahan gurauan sama saja seperti mengkafirkan orang lain.

  2. Termasuk Dosa Besar
    “Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya”. (HR Bukhari). Mengkafirkan walaupun hanya dengan menuduh termasuk dosa besar yang hukumannya sama dengan membunuh sebab mengkafirkan telah menjauhkan orang dari jalan Allah yang lurus dan menjerumuskan orang lain kepada jalan yang sesat..

    Contoh nyata mengkafirkan orang lain ialah adanya aliran yang mengaku mengikuti syariat islam tetapi dalam segala urusannya sama sekali tidak mengikuti perintah Allah dan RasulNya. Seperti yang dilakukan oleh para teroris yang melakukan pembunuhan dan pengeboman di berbagai tempat yang berawal dari pengaruh bahwa hal tersebut akan membawanya ke surga. Padahal justru hal sebaliknya yang terjadi sebab dia telah menghilangkan nyawa orang banyak.

  3. Larangan Rasulullah
    “Tidaklah seorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian”. (HR Bukhari). Penjelasan tersebut ialah larangan untuk mengkafirkan seseorang yang muslim atau memiliki akhlak islam yang baik sebab kekafiran tersebut justru akan kembali kepada dirinya sendiri. contohnya ialah tindakan yang menuduh orang alim atau ulama dengan sesuatu yang buruk..

    Hukum mengkafirkan orang lain jelas haram sesuuai sabda Rasulullah walaupun hanya berupa vonis atau tuduhan semata. Setiap manusia wajib menghormati sesama muslim dan mencegah keburukan serta kemaksiatan satu sama lain. jika melakukan kekafiran maka orang tersebut telah melakukan hal yang sebaliknya, yaitu mengarahkan orang lain kepada kemaksiatan.

  4. Mengingkari Ayat Ayat Allah
    “Dan tiadalah yang mengingkari ayat ayat kami selain orang orang kafir”. (QS Al Ankabut : 47). Mengkafirkan orang lain sama saja dengan mengingkari ayat ayat Allah sebab mengingkari perintah yang terdapat dalam firmanNya. Jelas dalam firman Allah diperintahkan untuk mengasihi sesama dan mengajak sesama muslim untuk berbuat kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak mengikuti syariat islam, maka bukan menjadi hak manusia untuk menghakimi atau mengakfirkan melainkan hanya Allah yang berhak menilainya..

    Rasulullah dan para sahabat sejak jaman terdahulu ketika islam telah disebarkan tidak pernah mengingkari atau meragukan ayat ayat Allah. Rasulullah juga tetap bersikap baik pada setiap orang walaupun orang tersebut bukan pengikutnya atau menjalankan perintah islam. Tetapi rasulullah tidak semata menganggap orang tersebut akan kafir untuk seterusnya sebab beliau menyadari bahwa Allah bisa kapan saja membolak balikkan hati umatNya.

  5. Ikut Menjadi Golongan Kafir
    “Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya dan dia di akherat termasuk orang orang yang rugi”. (Kasfu Al Qana). Mengkafirkan orang lain termasuk tindakan mencari agama selain islam, hal tersebut ialah sebuah kerugian dan tidak akan diterima amal kebaikannya di dunia dan di akherat. contoh dalam masa sekarang ialah seseorang yang mempegaruhi sesama muslim untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai umat muslim..

    Walaupun hanya sebuah tindakan sepele, tetapi termasuk mengkafirkan sebab menjadi umat muslim ialah berarti keseluruhan dan kesempurnaan amal ibadah seperti menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya. Dosa orang yang dikafirkan akan ditanggug oleh orang yang mengkafirkan dan keduanya sama sama mendapat azab dari Allah dan menjadi golongan kafir.

Karena itu, mari kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesalahan-kesalahan lisan kita. Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kalbu kita dan menahan kita dari berucap apa-apa yang dimurkai Allah dan yang memudharatkan diri kita, sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ternyata .. ada yang enggan masuk surga


Setiap insan mendambakan masuk surga, tapi tidak semua yang mendamba surga menyiapkan diri di dunia ini dengan amal yang mangantarkannya ke surga. Sikap seperti ini pada hakikatnya adalah gambaran seseorang yang tidak serius ingin masuk surga, untuk itu kita harus berupaya melakukan semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, agar kita bisa mendapatkan surga yang dijanjikan-Nya.

Setiap muslim dipastikan akan masuk surga, namun tidak ada yang menjamin bisa lolos begitu saja tanpa lewat neraka. Tergantung dari dosa dan berat timbangan amal baik dan buruk seelah di hisab. Namun sebaliknya orang kafir sudah dipastikan masuk neraka.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa mentaatiku maka akan masuk surga, barangsiapa yang menyelisihiku berarti dia enggan.” (HR. Al Bukhari)

Hadits ini merupakan berita gembira sekaligus peringatan keras. Berita gembira bagi umat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan surga yang dijanjikan. Yaitu mereka yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, kejujuran seseorang yang merindukan surga akan tercermin pada amaliyahnya selama di dunia.

Adapun peringatan keras kepada orang yang tidak bersedia mengikuti jalan hidup Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan tidak mau mentaatinya serta tidak mau tunduk kepada ajaran yang beliau bawa. Maka orang ini telah menolak atau enggan masuk surga. Artinya, orang ini telah menolak masuk surga dengan rangkaian amal buruknya di dunia.

Surga adalah kenikmatan yang luar biasa. Baunya saja bisa tercium dari jarak 70 tahun perjalanan. Namun, ada orang-orang yang jangankan masuk surga, mencium bau surga saja tidak bisa. Siapakah mereka? Inilah hadits-hadits yang menerangkannya:

  • Orang yang sombong
    Orang yang sombong, ia tidak bisa masuk surga. Juga tidak bisa mencium bau surga. Bahkan, sekalipun kesombongannya sangat kecil, sebesar biji dzarrah.

    عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَفِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ تَحِلُّ لَهُ الْجَنَّةُ أَنْ يَرِيحَ رِيحَهَا وَلاَ يَرَاهَا. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو رَيْحَانَةَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّ الْجَمَالَ وَأَشْتَهِيهِ حَتَّى إِنِّى لأَحِبُّهُ فِى عَلاَقَةِ سَوْطِى وَفِى شِرَاكِ نَعْلِى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْسَ ذَاكَ الْكِبَرُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ بِعَينَيْهِ

    Dari Uqbah bin Amir, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki meninggal dunia, dan ketika ia meninggal di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari sifat sombong, akan halal baginya mencium bau surga atau melihatnya.” Lalu seorang laki-laki dari suku Quraisy yang bernama Abu Raihanah berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, saya benar-benar menyukai keelokan dan menggemarinya hingga pada gantungan cemetiku dan juga pada tali sandalku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu tidaklah termasuk kesombongan, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla itu Indah dan menyukai keindahan. Akan tetapi sombong itu adalah siapa yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia dengan kedua matanya.” (HR. Ahmad)

  • Orang yang mencari ilmu akhirat untuk tujuan duniawi
    Islam memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu, terutama ilmu akhirat. Menuntut ilmu akhirat ini dalam salah satu hadits juga disebut fi sabilillah. Namun, jika ilmu akhirat dicari dengan tujuan duniawi, maka orang tersebut terancam tidak bisa mencium bau surga.

    مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad)

  • Orang yang menisbatkan nasab bukan kepada ayahnya
    Nasab merupakan salah satu hal yang dijaga oleh Islam. Orang yang mengaku sebagai anak orang lain yang bukan ayahnya, ia juga mendapat ancaman tidak bisa mencium bau surga. Karenanya Islam melarang umatnya menisbatkan nama kepada nama orang tua angkat.

    مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ قَدْرِ سَبْعِينَ عَامًا أَوْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا قَالَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

    “Barangsiapa mengaku keturunan dari orang lain yang bukan ayahnya sendiri tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga telah tercium pada jarak tujuh puluh tahun, atau tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Ahmad; shahih)

  • Wanita yang berpakaian tapi telanjang
    Sebagian ulama juga menafsirkan bahwa maknanya mereka yang tidak menutupi aurat. Seperti pakaian wanita yang hanya sampai selutut atau sepaha, atau sebetis, dan tidak menutupi kepalanya. Maka ini semua pakaian yang semakna dengan telanjang. Sebagian ulama yang lain mengatakan makna “wanita yang berpakaian namun telanjang” adalah mereka memakai pakaian yang tipis yang tidak menutupi kulit, sehingga mereka semakna dengan telanjang. .

    صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

    “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR. Muslim)

Lalu, kita termasuk di pihak yang mana? Kita yang menginginkan surga dengan taat kepada Rasul, atau kita yang ingin surga tapi sekedar “lipsing” aja, adahal banyak perbuatan kita justru yang mengindikasikan kalau kita adalah orang yang enggan masuk surga? Jawaban dari semua itu akhirnya kembali pada diri kita masing-masing.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS