Adab ketika menguap


Setan merasa senang ketika godaannya berhasil dan dituruti oleh manusia. Menguap dikatakan sebagai godaan setan, karena setanlah yang mengajak manusia untuk memenuhi keinginan syahwatnya. Sementara menguap terjadi ketika seseorang cenderung malas, banyak tidur, dan berat dalam melakukan ketaatan, sesunguhnya setan selalu memotivasi manusia untuk menguap “Naudzubillah”.

Agama Islam mengajarkan manusia akhlak-akhlak yang mulia dan melarang manusia dari akhlak-akhlak yang tercela. Diantara akhlak mulia dalam Islam adalah Islam mengajarkan adab ketika menguap. Diantara adab yang diajarkan Islam ketika menguap adalah berusaha menahannya sebisa mungkin. Tidak membiarkan mulutnya ternganga dan terbuka ketika menguap.  

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”). Sedangkan menguap itu dari setan, jika seseorang menguap hendaklah dia tahan semampunya. Bila orang yang menguap sampai mengeluarkan suara ‘haaahh’, setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari 6223)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

 إذا حصل التثاؤب يشرع له أمور عدة. الأمر الأول: أنه يكظم ما استطاع يعني: يضم فمه ما استطاع حسب الطاقة. الثاني: أنه يضع يده على فيه. الثالث: أنه لا يقول: هاه، بل يحفظ لسانه ولا يتكلم بشيء لا قليل ولا كثير 

“Jika menguap, disyariatkan beberapa perkata: Pertama, menahan mulut sebisa mungkin, yaitu dengan cara menggabungkan bibir sebisa mungkin. Kedua, (jika tidak mampu maka) meletakkan tangan di mulutnya. Ketiga, menjaga lisannya agar tidak berkata-kata baik sedikit maupun banyak”

Secara tegas Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak pengikutnya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Ada yang menarik dari penjelasan salah seorang ulama yang bernama Ibnu Bathol rahimahullah mengenai makna hadits yang kami sebutkan di atas. 
Beliau mengatakan,

إضافة التثاؤب إلى الشيطان بمعنى إضافة الرضا والإرادة

“Penyandaran perbuatan menguap kepada setan maksudnya adalah penisbatan pada keridhoan dan keinginan setan” (dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, saat mensyarh hadits ini)

Bila menguap itu sendiri sudah termasuk perbuatan yang mengundang ridho setan, lalu bagaimana lagi dengan seorang yang menguap plus dibarengi suara sekuat tenaga ?! Yang secara jelas Nabi shallallahu’alaihi wasallam menegaskan dalam sabda beliau, ” Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” ?!

Ini baru ucapan “haah” saja sudah membuat setan tertawa, sekedar desiran suara ringan yang keluar tatkala menguap. Bagaimana lagi bila yang diucapkan adalah ucapan dengan intonasi suara yang lebih kencang dan nadanya lebih panjang. Tentu lebih girang lagi setan dibuatnya.

Maka dari itu mulai saat ini mari kita ubah kebiasaan kurang baik tersebut. Yaitu berusaha menahan suara ketika menguap. Jangan sampai kita menjadi penyebab setan tertawa. Dan juga berusaha melestarikan adab-adab lainnya yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam ketika menguap.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa'ashabihi wasallam.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Larangan isbal


Secara terminologi isbal adalah memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan kain, pakaian, celana atau sarung hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.

Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. 

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara, termasuk dalam masalah pakaian. Rasulullah telah memberikan batas-batas syar’I terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadits-hadits berikut:.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun dibawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah 4331]

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi rahimahullah : “Hadits ini menunjukkan bahwa yang sunnah hendaklah sarung seorang muslim hingga setengah betis, dan dibolehkan turun dari itu hingga di atas mata kaki. Apa saja yang dibawah mata kaki maka hal itu terlarang dan haram. [Aunul Ma’bud 11/103]

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak bagi sarung pada mata kaki” [Hadits Riwayat. Tirmidzi 1783, Ibnu Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1765]

Hadits-hadits di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang banyak

Dari Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata.

Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akan saya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syamail Muhammadiyah 52, dan Ahmad 4/308]

‘Ubaid bin Khalid Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, “Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan.” Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?” Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”.[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah, hal. 69]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memanjangkan celananya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab :’ Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu’ Fatawa 22/14]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “ Walhasil, ada dua keadaan bagi laki-laaki; dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengah betis, boleh yaitu hingga di atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan hingga sehasta” [Fathul Bari 10/320]

Dalil-dalil haramnya Isbal

  1. Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَ مِرَارًا. قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih. Rasulullah menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak tiga kali, Abu Dzar berkata : “Merugilah mereka! Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Orang yang suka memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” [Hadits Riwayat Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa’i 4455, Darimi 2608. Lihat Irwa’: 900]

  2. “Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari 5783, Muslim 2085]

  3. Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda : مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ “Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96]

  4. “Dari Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Sufyan bin Sahl! Janganlah kamu isbal, sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang isbal.” [Hadits Riwayat. Ibnu Majah 3574, Ahmad 4/26, Thobroni dalam Al-Kabir 7909. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 2862]

  5. “Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 770]

  6. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, : “Saya lewat di hadapan Rasulullah sedangkan sarungku terurai, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurku seraya berkata, “Wahai Abdullah, tinggikan sarungmu!” Aku pun meninggikannya. Beliau bersabda lagi, “Tinggikan lagi!” Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya, “Seberapa tingginya?” “Sampai setengah betis.”[Hadits Riwayat Muslim 2086. Ahmad 2/33]

Berkata Syakh Al-Albani rahimahullah, : “Hadits ini sangat jelas sekali bahwa kewajiban seorang muslim hendaklah tidak menjulurkan pakaiannya hingga melebihi kedua mata kaki. Bahkan hendaklah ia meninggikannya hingga batas mata kaki, walaupun dia tidak bertujuan sombong, dan di dalam hadits ini terdapat bantahan kepada orang-orang yang isbal dengan sangkaan bahwa mereka tidak melakukannya karena sombong! Tidakkah mereka meninggalkan hal ini demi mencontohkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu Umar?? Ataukah mereka merasa hatinya lebih suci dari Ibnu Umar?” [Ash-Shahihah: 4/95]

Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid :” Dan hadits-hadits tentang pelarangan isbal mencapai derajat mutawatir makna, tercantum dalam kitab-kitab shohih, sunan-sunan, ataupun musnad-musnad, diriwayatkan dari banyak sekali oleh sekelompok para sahabat. Beliau lantas menyebutkan nama-nama sahabat tersebut hingga dua puluh dua orang. Lanjutnya : “ Seluruh hadits tersebut menunjukkan larangan yang sangat tegas, larangan pengharaman, karena di dalamnya terdapat ancaman yang sangat keras. Dan telah diketahui bersama bahwa sesuatu yang terdapat ancaman atau kemurkaan, maka diharamkan, dan termasuk dosa besar, tidak dihapus dan diangkat hukumnya. Bahkan termasuk hukum-hukum syar’i yang kekal pengharamannya.”[Hadd Tsaub Wal Uzroh Wa Tahrim Isbal Wa Libas Syuhroh, hal. 19]

Dampak negatif Isbal

Isbal kehaaramannya telah jelas, bahkan di dalam isbal terdapat beberapa kemungkaran yang tidak bisa diangga remeh, diantaranya adalah :

  1. Menyelisihi Sunnah
    Menyelesihi sunnah termasuk perkara yang tidak bisa dianggap enteng dan ringan, karena kewajiban setiap muslim untuk mengamalkan setiap sendi dien dalam segala perkara baik datangnya dari Al-Qur’an atau Sunnah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman. فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul, takut akan di timpa cobaan (fitnah) atau ditimpa adzab yang pedih” [QS An-Nur : 63]

  2. Mendapat Ancaman Neraka
    Berdasarkan hadits yang sangat banyak berisi ancaman neraka [2], bagi yang melabuhkan pakaiannya, baik karena sombong taupun tidak.

  3. Termasuk Kesombongan
    Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah : “Kesimpulannya isbal melazimkan menarik pakaian, dan menarik pakaian melazimkan kesombongan, walaupun pelakunya tidak bermaksud sombong” (Fathul Bari 10/325). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65, dishohihkan oleh Al-Albany dalam As-Shohihah 770]

    Berkata Ibnul Aroby rahimahullah : “Tidak boleh bagi laki-laki untuk memanjangkan pakaiannya melebihi kedua mata kaki, meski dia mengatakan : “Aku tidak menariknya karena sombong”, karena larangan hadits secara lafazh mecakup pula bagi yang tidak sombong, maka tidak boleh bagi yang telah tercakup dalam larangan, kemudian berkata : “Aku tidak mau melaksanakannya karena sebab larangan tersebut tidak ada pada diriku”, ucapan semacam ini merupakan klaim yang tidak bisa diterima, bahkan memanjangkan pakaian itu sendiri menunjukkan kesombongan” [Fathul Bari 10/325]

  4. Menyerupai Wanita
    Isbal bagi wanita disyari’atkan bahkan wajib, dan mereka tidak diperkenankan untuk menampakkan anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Orang yang isbal berarti mereka telah menyerupai wanita dalam berpakaian, dan hal itu terlarang secara tegas, berdasarkan hadits. Dari Ibnu Abbas ia berkata ; “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” [Hadits Riwayat Bukhari 5885, Abu Dawud 4097, Tirmidzi 2785, Ibnu Majah 1904]

    Imam At-Thobari berkata : “Maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai wanita di dalam berpakaian dan perhiasan yang menjadi kekhususan mereka, demikian pula sebaliknya” [Fathul Bari II/521]

    Dari Khorsyah bin Hirr berkata : “Aku melihat Umar bin Khaththab, kemudian ada seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lewat di hadapannya. Maka Umar menegurnya seraya berkata : “Apakah kamu orang yang haidh?” pemuda tersebut menjawab : “Wahai amirul mukminin apakah laki-laki itu mengalami haidh?” Umar menjawab ; “Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melewati mata kaki?” kemudian Umar minta diambilkan guting lalu memotong bagian sarung yang melebihi kedua mata kakinya”. Kharsyah berkata : “Seakan-akan aku melihat benang-benang di ujung sarung itu” [Hadits Riwayat Ibnu Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat Al-Isbal Lighoiril Khuyala, hal. 18]

    Akan tetapi laa haula wal quwwata illa billah, zaman sekarang yang katanya modern, patokan berpakaian terbalik, yang laki-laki melabuhkan pakaianya menyerupai wanita dan tidak terlihat darinya kecuali wajah dan telapak tangan!, Yang wanita membuka pakaianya hingga terlihat dua betisnya bahkan lebih dari itu. Yang lebih tragis lagi terlontar cemoohan dan ejekan kepada laki-laki yang memendekkan pakaiannya karena mencontoh Nabi dan para sahabat. Manusia zaman sekarang meman aneh, mereka mencela dan mengejek para wanita yang memanjangkan jilbabnya karena taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulnya, akhirnya kepada Alloh kita mengadu” [Al-Isbal Lighoiril Khuyala hal. 18]

  5. Berlebih Lebihan
    Tidak ragu lagi syari’at yang mulia ini telah memberikan batas-batas berpakaian, maka barangsiapa yang melebihi batasnya sungguh ia telah belebih-lebihan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [al-A’raf/7: 31] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Apabila pakaian melebihi batas semestinya, maka larangannya dari segi isrof (berlebih-lebihan) yang berakhir pada keharaman” [Fathul Bari II/436]

  6. Terkena Najis
    Orang yang isbal tidak aman dari najis, bahkan kemungkinan besar najis menempel dan mengenai sarungnya tanpa ia sadari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Naikkan sarungmu karena hal itu lebih menunjukkan ketakwaan dalam lafazh yang lain lebih suci dan bersih” [Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Syama’il Muhammadiyyah hal. 69]

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan :

  1. Isbal adalah memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki, baik karena sombong maupun tidak, dan hal ini haram dilakukan bagi laki-laki.
  2. Batasan pakaian seorang laki-laki ialah setengah betis, dan dibolehkan hingga di atas mata kaki, tidak lebih.
  3. Hukum isbal itdak berlaku bagi wanita, bahkan mereka disyari’atkan menurunkan pakaiannya hingga sejengkal di bawah mata kaki.
  4. Isbal pakaian tidak hanya sarung, berlaku bagi setiap jenis pakaian berupa celana, gamis, jubah, sorban dan segala sesuatu yang menjulur ke bawah.
  5. Isbal karena sombong adalah dosa besar, oleh karena itu pelakunya berhak tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, tidak disucikan-Nya, dan baginya adzab yang pedih.
  6. Isbal jika tidak sombong maka baginya adzab neraka apa yang turun di bawah mata kaki.
  7. Isbal memiliki beberapa kemungkaran, sebagaimana telah berlalu penjelasannya.
  8. Klaim sebagian orang yang melakukan isbal dengan alasan tidak sombong merupakan klaim yang tidak bisa diterima. Maka bagi mereka, kami sarankan untuk memperdalam ilmu dan merujuk kalam ulama dalam masalah ini.

[Disalin dari majalah Al Furqon, Edisi : 03/IV/Syawal 1443 H. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat : Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim].
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Berburu Lailatul Qadar


Tangis haru bercampur gembira meliputi kita semua, sebagai hamba-Nya yang merindukan malam lailatul qadar, malam yang memiliki kemuliaan lebih baik dari 1000 bulan. Salah satu yang membuat bahagia adalah karena  Allah Subhanahu Wata'ala masih memberikan peluang kepada hamba-Nya untuk menggapainya.

Mereka yang merindu cinta Illahi, menjelang sepuluh malam terakhir, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dengan penuh harap, mendapat berkah tersembunyi rahasia langit yang kuncinya di tangan Ilahi.

Akankah kita termasuk hamba-Nya yang beruntung? Hamba yang menyambut jamuan-Nya dengan penuh persiapan? Hamba yang menghadiri jamuan-Nya dengan "Iman" dan "Ihtisab (mengharap ridho-Nya)"? Atau justru hamba yang terlalai? Naudzubillah. 

Tidak diketahui secara pasti kapan datangnya malam lailatul qadar. Di dalam Al-Quran menyebutkan bahwa malam lailatul qadar biasanya terjadi pada malam ganjil seperti 21, 23, 25, 27, dan 29.. 

Berikut ini adalah tanda – tanda malam lailatul qadar :
 
  1. Udara yang tenang, damai, dan tidak panas.
    Rasulullah SAW bersabda:

    إنها ليلة سمحة طلقة لا حارة ولا باردة تجري على الناس رحمة فيها

    “Sesungguhnya malam itu adalah malam yang lembut, cerah, tidak panas dan tidak dingin. Pada malam itu turun rahmat kepada manusia.” (HR. Ahmad)

  2. Penuh cahaya di langit dan di bumi
    Rasulullah SAW bersabda:

    إنها ليلة طلقاء بيضاء كأنها صبح يومها لا تشبهها ليلة

    “Sesungguhnya malam itu adalah malam yang cerah putih seperti pagi harinya. Tidak ada malam yang menyerupainya.” (HR. Ahmad)

  3. Malaikat dan Ar Ruh yaitu malaikat Jibril (turun pada malam Lailatul Qadar).
    Allah Subhanahu Wataála berfirman:

    تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

    “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4)                                                                               Salah satu keistimewaan malam Lailatul Qadar adalah ditandai dengan turunnya para malaikat. Turunnya malaikat tersebut menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membaca Al Quran. Serta mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis Dzikir dan Majelis Ilmu.

  4. Malam tersebut adalah malam yang banyak terkabulnya doa. Rasulullah SAW bersabda:

    من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

    “Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  5. Malam tersebut adalah malam yang ada tanda-tanda di pagi harinya, seperti matahari yang terbit tanpa sinar yang menyilaukan, atau langit yang cerah tanpa awan.
    Rasulullah SAW bersabda:

    إن ليلة القدر ليلة سمحة طلقة لا حارة ولا باردة يطلع صبيحتها الشمس دائرة حمراء ليس لها شعاع

    “Sesungguhnya Lailatul Qadar adalah malam yang lembut, cerah, tidak panas dan tidak dingin. Pada pagi harinya matahari terbit bulat merah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Itulah beberapa ciri-ciri Lailatul Qadar yang bisa kita jadikan sebagai petunjuk untuk mencarinya. Namun, kita tidak boleh bergantung pada ciri-ciri tersebut, karena bisa jadi kita salah mengira atau tidak melihatnya. Yang terpenting adalah kita berusaha untuk menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dengan ibadah dan amal saleh, seperti shalat, tilawah Al-Quran, dzikir, doa, sedekah, dan lain-lain. Semoga Allah Subhanahu Wataála memberikan kita kesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qadar dan keutamaannya.

Jika anda membutuhkan info lebih lanjut tentang makna yang tersurat di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, bisa hubungi langsung DKM Musholla Al Ikhlas.

Barokallahu Fiikum.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Menjadi pribadi yang lebih baik


Islam adalah agama yang mengajarkan tata cara hidup yang baik dan berakhlak mulia. Menjadi seorang Muslim yang baik bukanlah hal yang mudah, namun juga bukanlah hal yang mustahil. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam mempraktikkan ajaran Islam secara kaffah.

Berbuat baik bisa itu dilakukan di mana saja, kapan saja dan pada siapa saja. Berbuat baik sangat luas cakupannya bahkan dalam hal sekecil atau sesederhana apapun. Berbuat baik bisa dipraktekan pada teman atau pelanggan kita. Berbuat baik itu banyak manfaatnya, orang yang senantiasa berbuat baik pastinya dapat pahala dan dimudahkan ditambah rezekinya oleh Allah Subhanahu Wataála. Berbuat baik itu tidaklah sulit .. kembali kepada diri kita : mau apa tidak ?

Allah Subhanahu Wataála berfirman dalam Al Qur'an Surah Yunus Ayat 26  "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya"

Orang yang beruntung adalah orang yang mampu menjadikan hari-harinya lebih baik dari hari sebelumnya. Sebagai makluk ciptaan Allah, menjadi lebih baik merupakan pencapaian yang harus diraih setiap hamba-NYA. Karena orang yang hidupnya hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung “Barangsiapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung, sedangkan barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi dan barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka orang semacam itu dilaknat oleh Allah”. (HR Bukhari).

Berdasarkan dalil tersebut, menjadi lebih baik harus menjadi prinsip hidup kita, sebagaimana Rasulullah terapkan dalam hidupnya, yaitu “Tiada hari tanpa meningkatkan kualitas hidup”. Lebih baik yang dimaksud mencakup segala hal, mulai dari urusan duniawi hingga urusan akhirat.

Untuk menjadi lebih baik, dibutuhkan semangat positif, ada dua semangat yang perlu dipelihara agar keseharian kita membawa perubahan lebih baik, yaitu semangat memperbaiki diri dan semangat menuntut ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat.

Dengan menumbuhkan semangat memperbaiki diri, kita akan merasa senang dan berterimakasih kepada siapapun yang menyampaikan saran dan kritik kepada kita. Kita juga tidak sungkan bertanya kepada siapapun mengenai kekurangan kita sehingga dapat cepat diperbaiki. Kita tidak perlu rendah diri atau rugi jika meminta saran kepada orang lain, karena dengan begitu, kita jadi semakin bisa mengevaluasi diri dan memperbaikinya dengan cepat. Ini lebih baik daripada mencari kelemahan orang lain.

Kemudian, tumbuhkan selalu semangat menambah ilmu dan pengetahuan kita, agar wawasan semakin luas dan pengetahuan semakin dalam. Semua ini akan memperbaiki kualitas kita dalam berbicara, semakin arif dan memutuskan dan semakin hijak dalam bertindak. Sediakan waktu, dana dan energi khusus untuk meningkatkan dan menambah ilmu.

Adanya dua semangat ini, akan mendorong kita untuk mengerjakan sesuatu dengan persiapan dan perencanaan yang matang dan bertanggung jawab. Membuat lingkungan kerja “tertulari” semangat kerja yang luar biasa, etos kerja yang positif dan semuanya kita kerjakan dengan keikhlasan dan kejujuran, sebagai salah satu bentuk ibadah kita.

Dalam artikel ini, kita akan membahas rahasia sukses dalam menjadi seorang muslim yang baik:

  1. Menjaga hubungan dengan Allah
    Hubungan yang kuat dengan Allah adalah kunci utama dalam menjadi seorang Muslim yang baik. Menjaga hubungan dengan Allah meliputi ibadah, doa, dan membaca Al-Quran secara rutin. Selain itu, juga penting untuk memperbanyak zikir dan berdzikir dalam setiap aktivitas yang dilakukan.

  2. Mengikuti Sunnah Rasulullah
    Sunnah Rasulullah adalah contoh yang terbaik bagi umat Islam. Mengikuti sunnah Rasulullah dalam setiap tindakan dan perkataan adalah salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempelajari dan mengamalkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Menjaga etika dan akhlak yang baik
    Islam mengajarkan tentang pentingnya menjaga etika dan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini termasuk dalam hubungan dengan sesama manusia, baik itu keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar. Memperlihatkan sikap rendah hati, sopan santun, serta memperlakukan orang lain dengan baik adalah hal yang sangat ditekankan dalam agama Islam.

  4. Berlaku adil dan jujur
    Adil dan jujur adalah nilai yang sangat penting dalam Islam. Menjaga kejujuran dalam setiap tindakan dan perkataan adalah salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Selain itu, berlaku adil dalam setiap tindakan juga merupakan tanda bahwa kita benar-benar mengikuti ajaran Islam.

  5. Membantu sesama
    Membantu sesama adalah salah satu ajaran penting dalam Islam. Sebagai Muslim, kita diwajibkan untuk membantu sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan, memberikan bantuan dalam bentuk tenaga atau waktu, hingga memberikan nasihat dan dukungan kepada sesama.

  6. Memperbaiki diri sendiri
    Memperbaiki diri sendiri adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup kita sebagai seorang Muslim. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghindari perbuatan yang buruk, mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik, serta memperbaiki diri dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, pendidikan, dan keuangan.

  7. Menjaga hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar
    Keluarga dan lingkungan sekitar merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menjaga hubungan yang baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar dapat membantu meningkatkan kualitas hidup kita, serta membantu kita untuk menjadi seorang Muslim yang baik.

  8. Menghindari perbuatan yang haram
    Menghindari perbuatan yang haram merupakan salah satu cara untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Hal ini termasuk dalam menghindari perbuatan dosa dan maksiat, seperti meminum minuman keras, berjudi, dan melakukan perbuatan yang tidak baik lainnya. Dengan menghindari perbuatan yang haram, kita dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah.

  9. Selalu bersyukur
    Bersyukur merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam. Selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah merupakan tanda bahwa kita benar-benar menghargai dan menghormati karunia yang telah diberikan-Nya. Dengan bersyukur, kita juga dapat memperbaiki mental dan emosi kita, serta membantu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah.

  10. Mengikuti ajaran Islam dengan konsisten
    Terakhir, untuk menjadi seorang Muslim yang baik, kita perlu mengikuti ajaran Islam dengan konsisten. Hal ini termasuk dalam menjalankan ibadah, mengikuti ajaran Islam dalam setiap tindakan dan perkataan, serta menghindari perbuatan yang haram. Dengan mengikuti ajaran Islam dengan konsisten, kita dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah.

Jika anda membutuhkan konsultasi lebih lanjut tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik, bisa hubungi langsung DKM Musholla Al Ikhlas.

Barokallahu Fiikum.
Baca Selengkapnya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS